Oleh Nur Arif Makful, Ph.D. Dosen, pegiat dan peneliti kognitif neurosains dan fenomena sosial
Di tengah gempuran modernisasi dan arus perubahan sosial yang begitu cepat, masyarakat pedesaan Indonesia, khususnya yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU) menyimpan kekayaan tradisi yang tak ternilai. Tradisi-tradisi seperti jimpitan, sedekah bumi, kembul bujana, tahlilan, dan bahtsul masail bukan sekadar ritual tahunan atau seremoni keagamaan semata. Lebih dari itu, praktik-praktik kolektif ini telah teruji lintas generasi sebagai infrastruktur sosial yang kokoh, menopang ketahanan pangan, gerakan sosial, jejaring pengaman sosial, hingga pelestarian alam.
Jika kita menelisik lebih dalam, ritual keagamaan kolektif dalam masyarakat nahdliyin sesungguhnya bekerja dalam dua jalur sekaligus: jalur sosiologis dan jalur neurokognitif. Émile Durkheim, sosiolog klasik, menyebut fenomena ini sebagai effervescence, yakni gairah emosional bersama yang muncul ketika individu berkumpul dan memusatkan perhatian pada objek sakral yang sama. Dalam momen-momen seperti tahlilan atau sedekah bumi, kesadaran individual untuk sementara menghilang, digantikan oleh solidaritas mekanik yang mengikat erat.
Namun penjelasan Durkheim saja tidak cukup. Ilmu neurosains sosial modern menunjukkan bahwa aktivitas kelompok yang terkoordinasi dan berirama seperti zikir bersama, tahlil, atau shalawatan memicu pelepasan oksitosin, neuropeptida yang oleh para ilmuwan disebut sebagai “molekul moral”. Oksitosin inilah yang memperkuat kepercayaan, rasa aman, dan keterikatan sosial antar individu. Paul Zak, peneliti dari Claremont Graduate University, menemukan bahwa interaksi sosial berbasis kepercayaan turut memperkuat pelepasan oksitosin yang mengukuhkan ikatan interpersonal.
Tak hanya itu, sistem neuron cermin (mirror neuron) yang ditemukan oleh Rizzolatti dan Craighero menjelaskan mengapa gotong royong fisik atau makan bersama dalam tradisi kembul bujana mampu menciptakan empati dan sinkronisasi gerak tanpa perlu negosiasi verbal yang panjang. Ketika kita melihat tetangga bekerja bersama, secara otomatis otak kita mengaktifkan area yang sama seolah-olah kita sendiri yang melakukan pekerjaan itu. Sinkroni perilaku inilah yang mempercepat pembentukan rasa kebersamaan.
Salah satu tradisi yang paling sederhana namun luar biasa dampaknya adalah jimpitan. Praktik pengumpulan beras atau uang secara sukarela dari setiap rumah tangga setiap malam yang lazim di lingkungan nahdliyin Jawa berfungsi ganda: sebagai dana keamanan lingkungan (ronda) sekaligus dana sosial darurat bagi warga yang kesusahan.
Dari sudut pandang neurokognitif, keterlibatan rutin dalam ronda dan jimpitan menciptakan sinkroni sosial berulang yang memelihara oksitosin basal komunitas. Ini seperti bentuk kohesi “mode doktrinal” yang oleh Harvey Whitehouse disebut sebagai ritual frekuensi tinggi yang membangun kohesi melalui repetisi. Hasilnya, warga menjadi lebih peduli terhadap sesama dan lingkungan sekitar. Di saat negara dan lembaga formal belum tentu hadir, jimpitan menjadi benteng pertama perlindungan sosial bagi warga desa.
Sedekah Bumi dan Kembul Bujana: Ketahanan Pangan yang Simbolik sekaligus Praktis
Tradisi sedekah bumi yang masih lestari di desa-desa berbasis NU, seperti yang dikaji di Desa Pancur, Bojonegoro, adalah ritual syukur pascapanen yang sekaligus mendistribusikan ulang hasil pangan kepada warga kurang mampu. Ini bukan hanya tentang berbagi rezeki, tetapi juga tentang memperkuat harmoni sosial melalui simbol-simbol bersama.
Tradisi kembul bujana, yakni makan bersama dengan alas daun atau tampah menegaskan nilai syukur dan kebersamaan. Secara fungsional, praktik ini mendekati mekanisme jejaring berbagi pangan (food-sharing network) yang dalam literatur ketahanan pangan dikenal sebagai modal sosial yang efektif. Secara neurokognitif, ritual ini menjadi peristiwa yang menyinkronkan afek positif kolektif. Barbara Fredrickson, psikolog dari University of North Carolina, menunjukkan bahwa emosi positif kolektif seperti syukur dan kebersamaan memperluas repertoar kognitif-perilaku individu dan membangun sumber daya psikologis serta sosial jangka panjang. Ritual sedekah bumi dan kembul bujana, dengan nuansa syukur kolektifnya, secara neurokognitif berfungsi menurunkan kadar kortisol (hormon stres) partisipan sekaligus menaikkan afek positif yang mendukung kerja sama jangka panjang.
Struktur organisasi NU yang dimulai dari Lembaga Kemaslahatan Keluarga dan Lingkungan Hidup (LKNU), Lembaga Pertanian NU, hingga badan otonom seperti Muslimat dan Ansor telah menyediakan kanal formal bagi energi jamaah untuk bergerak cepat merespons bencana maupun krisis ekonomi lokal.
Karena jaringan kepercayaan sudah terbangun lebih dulu melalui ritual keagamaan rutin, mobilisasi bantuan sosial lewat galang dana bencana, dapur umum, dana kesehatan warga berlangsung jauh lebih cepat dibanding komunitas tanpa modal sosial keagamaan yang mapan. NU sendiri menegaskan bahwa daya tahan organisasinya justru bersumber dari kekuatan jamaah, bukan semata struktur jam’iyah formal. Ketika negara belum hadir, pesantren telah membangun pendidikan. Ketika akses terhadap modal begitu terbatas, tradisi gotong royong menghidupkan ekonomi rakyat.
Pada dimensi ekologis, pesantren NU pedesaan semakin banyak mengembangkan program eco0pesantren dengan focus pengelolaan sampah, kompos, daur ulang yang dilandasi ekoteologi Aswaja. Pemahaman bahwa kerusakan lingkungan berarti menzalimi hak generasi mendatang menjadikan pelestarian alam sebagai bagian dari ibadah. Prinsip ini sejalan dengan konsep kawasan lindung (hima) dan pemanfaatan lahan tak produktif yang telah dipraktikkan sejak masa Nabi.
Secara kognitif, pembingkaian isu lingkungan dalam bahasa fikih dan ibadah mempermudah internalisasi norma ekologis karena melekat pada sistem nilai yang sudah memiliki otoritas moral tinggi di benak warga. Ini yang disebut sebagai moral framing yang terbukti efektif dalam pengambilan keputusan pro-lingkungan.
Sintesis: Infrastruktur Sosial-Kognitif yang Aktif
Kelima praktik di atas: Jimpitan, sedekah bumi, kembul bujana, gerakan sosial berbasis jam’iyah, dan eco-pesantren telah menunjukkan pola yang sama. Ritual dan tradisi adat nahdliyin menghasilkan tiga hal berurutan:
Pertama, sinkroni perilaku dan emosi kolektif melalui jalur neurokognitif: pelepasan oksitosin, aktivasi neuron cermin, dan fusi identitas. Kedua, pengendapan menjadi modal sosial berupa kepercayaan dan norma resiprositas sebagaimana dijelaskan oleh Coleman, Putnam, dan Durkheim. Ketiga, manifestasi sebagai kapasitas kolektif nyata di bidang ketahanan pangan, jejaring pengaman sosial, gerakan sosial, dan pelestarian lingkungan.
Ikatan kolektif adat pada masyarakat nahdliyin pedesaan bukanlah warisan budaya statis yang sekadar dilestarikan untuk nostalgia. Ia adalah infrastruktur sosial-kognitif yang aktif memproduksi kepercayaan, resiprositas, dan kapasitas aksi kolektif. Mekanisme neurokognitif seperti pelepasan oksitosin melalui ritual berirama, sinkroni neuron cermin dalam kerja bersama, serta fusi identitas dalam peristiwa emosional intens, menjelaskan mengapa modal sosial berbasis keagamaan ini demikian kokoh dan sulit digantikan oleh intervensi program dari luar yang bersifat top-down.
Implikasinya jelas: Kebijakan pembangunan desa, termasuk ketahanan pangan dan mitigasi lingkungan akan jauh lebih efektif bila dirancang untuk memperkuat, bukan menggantikan, simpul-simpul tradisi nahdliyin yang telah teruji ini. Di tengah keraguan akan efektivitas program-program pembangunan yang seringkali mengabaikan kearifan lokal, tradisi-tradisi kolektif ini justru menawarkan jalan tengah yang manusiawi: pembangunan yang berakar pada budaya, dijalankan oleh masyarakat, untuk kesejahteraan bersama.
Dukungan Anda Sangat Berarti 😊
Yuk bantu perjuangan LTN NU Kota Depok menyebarkan informasi kegiatan NU dengan melakukan pembayaran melalui QRIS berikut:
Terima kasih atas kontribusi Anda 🙏

![[OPINI] Ikatan Kolektif Secara Adat dalam Masyarakat Nahdliyin di Pedesaan whatsapp image 2026 07 12 at 21.21.47](https://i0.wp.com/pcnudepok.com/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-12-at-21.21.47.jpeg?fit=1024%2C609&ssl=1)


