[OPINI] Krisis Pesantren Hari Ini: Bukan Soal Ilmu, Tapi Cara Mengelolanya

foro irfan ngaji.jpg

Oleh: Muhammad Irfanudin Kurniawan

Tanggal 22 Oktober bukan sekadar penanda pergantian kalender. Bagi umat Islam dan seluruh santri di Nusantara, tanggal itu menyimpan sejarah yang panjang.

Delapan puluh satu tahun silam, resolusi jihad dikumandangkan, menyatukan gelombang spiritual dan semangat kebangsaan untuk mempertahankan kemerdekaan.

Hari Santri yang kita peringati tahun ini sesungguhnya bukan hanya ajang bernostalgia pada masa lalu, melainkan momentum untuk merenungkan kembali arah pendidikan Islam di masa depan.

Peringatan Hari Santri selalu menghadirkan sebuah pertanyaan mendasar yang seolah terus mengikuti langkah kita.

Sudahkah pesantren benar-benar siap bernegosiasi dengan zamannya? Ataukah kita masih tertawan dalam dikotomi yang memisahkan antara mempertahankan tradisi atau memilih modernitas?

Tema besar peringatan tahun ini mengingatkan kita pada satu kenyataan bahwa identitas santri tidak pernah tunggal. Sejak era klasik, mereka yang menimba ilmu di surau, masjid, dan pesantren selalu berhadapan dengan dinamika sosial yang mengitarinya.

Santri bukanlah entitas yang berdiri di menara gading, melainkan bagian dari denyut perubahan masyarakat dulu, sekarang dan akan datang.

Di sinilah relevansi gagasan sosio-historis yang selama ini digaungkan oleh intelektual sekaliber Azyumardi Azra.

Beliau berulang kali menekankan bahwa kemunduran pendidikan Islam tidak pernah disebabkan oleh ajaran agamanya yang sakral.

Kemunduran itu terjadi karena kita gagal merespons perubahan zaman dengan cerdas.

Reposisi pesantren sebagai basis utama pemahaman agama harus terus dilakukan tanpa harus mengorbankan keterbukaan terhadap arus globalisasi.

Selama ini, kita sering terjebak pada pemisahan artifisial antara ilmu agama dan ilmu umum.

Seolah-olah, mempelajari fikih dan tauhid berarti menutup pintu bagi penguasaan sains dan teknologi. Padahal, sejarah peradaban Islam membuktikan sebaliknya. Para ulama klasik adalah mereka yang menguasai keduanya.

Baca juga  Waspadalah, Lomba 'Qiroatul Kutub' Dapat Melemahkan NU dari Dalam

Hari Santri seharusnya menjadi pengingat bahwa sekat dikotomi itu harus segera dibongkar.

Santri hari ini dituntut untuk fasih membaca kitab kuning, sekaligus cakap mengoperasikan teknologi digital dan memahami perkembangan sains mutakhir.

Tantangan terbesar yang dihadapi lembaga pendidikan Islam saat ini justru terletak pada aspek tata kelola organisasi.

Sebuah pesantren yang terus berkembang akan selalu dihadapkan pada krisis-krisis manajerial.

Mulai dari krisis kepemimpinan ketika sosok pendiri tidak lagi mampu mengendalikan seluruh aktivitas secara personal, hingga krisis birokrasi ketika aturan yang dibuat justru menghambat laju inovasi.

Di sinilah transformasi manajemen menjadi sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindari.

Namun, profesionalisasi manajemen pesantren tidak boleh berhenti pada penyempurnaan administrasi dan pembenahan sarana-prasarana semata.

Esensi pendidikan jauh melampaui urusan teknis tersebut.

Kita memang membutuhkan sistem yang rapi dan transparan, tetapi kita juga harus memastikan bahwa sistem itu tidak menggerus nilai-nilai keteladanan, keikhlasan, dan semangat pengabdian yang selama ini menjadi nafas pesantren.

Profesionalisme harus berjalan beriringan dengan penghayatan spiritual yang mendalam.

Pada momentum Hari Santri ini, kita patut mengingat kembali bahwa tradisi bukanlah warisan yang mati.

Tradisi adalah akar yang menjaga kita tetap tegak, sementara modernitas adalah cabang dan dedaunan yang memungkinkan kita terus bernafas. Pohon yang kokoh tidak pernah tumbuh dengan membenci akarnya sendiri.

Menjadi santri di era modern berarti harus mampu melakukan dialog kritis yang kreatif terhadap segala hal yang baru.

Ketika zaman menawarkan alat, kita ambil alatnya. Ketika zaman menawarkan metode, kita adaptasi metodenya. Tetapi ketika zaman mencoba menggeser nilai-nilai transendental, di situlah tradisi harus berdiri tegak sebagai penjaga.

Masa depan pendidikan Islam di negeri ini akan sangat bergantung pada seberapa berani para pengelolanya membaca peluang di tengah perubahan.

Baca juga  [Opini] Suara Diakar Rumput Hanya Menjadi Bisikan di Balik Muktamar

Pesantren tidak boleh lagi merasa nyaman dengan status quo, namun juga tidak boleh tercerabut dari akar kesejarahannya. Keduanya harus menjadi lembaga yang terbuka, inklusif, dan terus belajar, tanpa pernah kehilangan jati dirinya sebagai wadah pembentukan manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.

Selamat Hari Santri 2026. Mari terus rawat akar tradisi, dan rangkul modernitas dengan penuh kebijaksanaan.

Ingat, santri yang tangguh adalah mereka yang mampu menerangi zaman tanpa harus memadamkan warisan lampu-lampu masa lalu.

—

Muhammad Irfanudin Kurniawan adalah dosen Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta. Penulis buku Organisme Pesantren, Dakwah Model Canvas, The Essence of Islamic Leadership, Menjejaki Alam Filsafat, dan Menalar Manajemen Pendidikan Islam: Dari Worldview Islam ke Integrasi Ilmu.

Dukungan Anda Sangat Berarti 😊

Yuk bantu perjuangan LTN NU Kota Depok menyebarkan informasi kegiatan NU dengan melakukan pembayaran melalui QRIS berikut:

QRIS Pembayaran

Terima kasih atas kontribusi Anda 🙏