[Opini] Suara Diakar Rumput Hanya Menjadi Bisikan di Balik Muktamar

whatsapp image 2026 08 31 at 16.24.39

Catatan Seorang Kader dari Akar Rumput Setelah Muktamar NU ke-35
Ada sesuatu yang mengganjal di hati saya setelah Muktamar NU ke-35.
Bukan karena saya tidak menerima keputusan organisasi.
Bukan pula karena saya ingin mempertentangkan satu kiai dengan kiai yang lain.
Saya hanya sedang mencoba memahami satu hal:
Apakah suara NU yang berada di akar rumput benar-benar masih didengar?

Saya teringat sebuah tulisan yang menarik perhatian saya: “Kiai yang Tidak Punya ID Card” karya Halimi Zuhdy.
Di tengah hiruk-pikuk Muktamar, ia bertemu seorang kiai sepuh di sebuah gang. Tidak mengenakan ID card. Tidak dikenal kamera. Tidak dikejar wartawan. Tidak berada di panggung.

Beliau datang dari jauh.
Duduk di masjid.
Diam.
Khusyuk.
Dan kemudian pulang.
Kisah sederhana itu justru membuat saya berpikir panjang tentang NU.

Sebab NU yang kami kenal di akar rumput bukan hanya tentang siapa yang duduk di panggung Muktamar. Bukan hanya tentang struktur, jabatan, suara, forum, dan siapa yang akhirnya terpilih.
NU juga adalah kiai kampung yang setiap subuh menjadi imam.
NU adalah guru ngaji yang mengajari anak-anak membaca Al-Qur’an tanpa meminta bayaran.

NU adalah orang yang datang pertama ketika ada warga meninggal.
NU adalah mereka yang mengurus tahlilan, pengajian, santunan, Lailatul Ijtima, dan berbagai kegiatan keumatan dengan biaya seadanya.
Mereka mungkin tidak punya ID card Muktamar.
Tidak punya akses ke ruang-ruang elite.
Tidak punya kamera.
Tidak punya pengikut jutaan.
Tetapi merekalah yang setiap hari menjaga agar NU tetap hidup di tengah masyarakat.

Dan saya adalah salah satu dari orang-orang yang hidup di ruang itu.
Karena itu, ketika hasil Muktamar akhirnya diumumkan, saya tidak bisa berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Saya kecewa.
Dan saya yakin, kegelisahan seperti ini bukan hanya milik saya.
Banyak warga dan kader NU di bawah yang selama ini melihat, merasakan, dan mengikuti perjalanan organisasi tentu memiliki penilaian sendiri terhadap kepemimpinan sebelumnya.

Baca juga  Pendidikan, Karakter, dan Krisis Integritas: Menakar Akar Persoalan Bangsa

Kami melihat berbagai keputusan yang pernah menimbulkan perdebatan.
Kami melihat ketegangan di tubuh organisasi.
Kami melihat bagaimana perbedaan pandangan kadang berujung pada konflik dan bahkan pergantian atau pemberhentian orang-orang di dalam struktur.

Kami tidak sedang mengatakan bahwa semua keputusan itu salah.
Tetapi kami bertanya:
Apakah semuanya sudah mencerminkan semangat merangkul yang menjadi ruh NU?

Pertanyaan itu semakin kuat menjelang Muktamar
Di tengah masyarakat beredar berbagai informasi mengenai dugaan pengondisian dukungan. Bahkan beredar rekaman yang kemudian menjadi bahan pembicaraan luas di kalangan warga NU.

Ada pula informasi mengenai dugaan adanya dana sebesar Rp50 juta untuk masing-masing PW dan PC.
Saya tidak ingin menjadikan informasi yang belum terverifikasi sebagai vonis.
Justru karena itu, menurut saya persoalan tersebut harus dijawab dengan terang.
Jika benar, jelaskan.
Jika tidak benar, bantah dan luruskan.
Sebab yang dipertaruhkan bukan sekadar nama seseorang.

Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan warga NU kepada proses organisasi.
Dan ketika akhirnya KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya sebagai Rais Aam, saya menghormati keputusan tersebut sebagai keputusan organisasi.

Saya tidak ingin mengajarkan warga NU untuk membenci seorang kiai.
Tidak.
Kritik kepada kepemimpinan tidak boleh berubah menjadi kebencian kepada ulama.
Tetapi menghormati ulama juga tidak berarti bahwa seluruh kader harus kehilangan hak untuk menyampaikan kegelisahan.
NU terlalu besar untuk dibangun dengan budaya diam.
NU terlalu mulia jika kritik dianggap sebagai permusuhan.
Dan NU terlalu berharga jika perbedaan pandangan membuat kita saling menjauh.
Saya justru berharap terpilihnya kembali kepemimpinan ini menjadi kesempatan untuk melakukan sesuatu yang lebih besar:

membuka kembali pintu yang mungkin selama ini terasa tertutup.
Rangkul mereka yang berbeda pandangan.
Dengarkan suara cabang.
Dengarkan suara ranting.
Dengarkan kiai-kiai kampung.
Dengarkan kader yang bekerja tanpa kamera.
Dengarkan mereka yang selama ini menghidupkan NU dengan uang pribadi, tenaga, waktu dan keikhlasan.
Karena mereka mungkin tidak punya ID card Muktamar.
Tetapi mereka punya kartu keanggotaan yang jauh lebih penting: hati yang mencintai NU.

Baca juga  Membedah Badai Reputasi Pesantren: Antara Fakta Hukum dan Penumpang Gelap

Saya menulis ini bukan untuk keluar dari NU.
Justru sebaliknya.
Saya menulis karena saya ingin tetap berada di rumah ini.
Saya ingin NU tetap menjadi rumah besar yang mampu memeluk semua anaknya.
Saya ingin perbedaan menjadi kekayaan, bukan alasan untuk saling menyingkirkan.

Saya ingin kader di bawah merasa memiliki NU, bukan sekadar menjalankan perintah dari atas.
Dan saya ingin para pemimpin NU selalu ingat:
Di balik setiap keputusan yang dibuat di tingkat atas, ada ribuan ranting dan cabang yang harus menjelaskan keputusan itu kepada masyarakat.
Ada kader yang harus menjawab pertanyaan jamaah.

Ada kiai kampung yang harus menjaga kepercayaan umat.
Ada pengurus ranting yang harus tetap berdiri di tengah masyarakat meskipun tidak mendapatkan apa-apa selain pahala dan doa.

Kami tidak meminta jabatan.
Kami hanya ingin suara kami didengar.
Kami tidak meminta panggung.
Kami hanya ingin NU tetap menjadi rumah kami.
Kami tidak meminta kekuasaan.
Kami hanya ingin khidmah tidak dikalahkan oleh kepentingan.
Mungkin saya bukan siapa-siapa.
Mungkin tulisan ini tidak akan mengubah keputusan Muktamar.
Tetapi setidaknya saya ingin mencatat satu hal:

Jangan pernah menganggap suara akar rumput sebagai suara kecil.
Sebab NU tidak hanya hidup di ruang Muktamar.
NU hidup di masjid-masjid kecil.
Di mushala.
Di pesantren.
Di majelis taklim.
Di gang-gang kampung.
Di rumah warga yang sedang berduka.
Di tangan para guru ngaji.
Dan di hati para kiai sepuh yang mungkin datang ke Muktamar tanpa ID card.
Kepada mereka saya ingin berkata:
Terima kasih, Yai.
Mungkin nama panjenengan tidak disebut di panggung.
Mungkin wajah panjenengan tidak masuk kamera.
Mungkin suara panjenengan tidak terdengar dalam forum.
Tetapi NU yang kami cintai hari ini berdiri di atas khidmah orang-orang seperti panjenengan.
Dan kepada para pemegang amanah NU saya ingin menitipkan satu pesan:
Jangan hanya mendengar suara yang terdengar dari atas.
Sesekali turunlah.
Duduklah bersama kami.
Dengarkan kiai kampung.
Dengarkan ranting.
Dengarkan kader.

Baca juga  [OPINI] Dialektika Hegel dan Tradisi Berpikir NU

Dengarkan jamaah.
Karena mungkin di sanalah suara NU yang paling jujur masih terdengar.
Kami kecewa, tetapi kami tidak pergi.
Kami mengkritik, tetapi kami tidak membenci.
Kami berbeda pandangan, tetapi kami tetap Nahdliyyin.
Sebab kecintaan kepada NU tidak harus selalu diwujudkan dengan tepuk tangan.
Kadang-kadang,
cinta justru hadir dalam keberanian untuk mengingatkan ketika kita merasa ada sesuatu yang harus diperbaiki.
Dan saya memilih untuk tetap berada di rumah ini.
Bukan karena semuanya sudah sempurna.
Tetapi karena saya percaya,
NU masih bisa menjadi rumah besar bagi semuanya.

31 Agustus 2026
— penulis : Abdul Manaf
Kader NU dari akar rumput

Dukungan Anda Sangat Berarti 😊

Yuk bantu perjuangan LTN NU Kota Depok menyebarkan informasi kegiatan NU dengan melakukan pembayaran melalui QRIS berikut:

QRIS Pembayaran

Terima kasih atas kontribusi Anda 🙏