Menggugat Diplomasi Panggung PBNU: Forbes NU 26 Bunyikan Alarm Keras Jebakan Normalisasi Israel dan Infiltrasi Asing

whatsapp image 2026 07 12 at 20.39.09

JAKARTA, 12 Juli 2026 — Forum Bersama Nahdliyin (Forbes) NU 26 sukses menggelar Rembuk Warga NU Se-Jabodetabek Seri 3 pada Minggu (12/7) pukul 13.00-16.30 WIB di Setahun Kemarin Coffee, Kramat Sentiong, Jakarta Pusat. Forum ini mengangkat tema yang sangat krusial dan menohok: “NU di Tengah Badai Dunia Baru: Menggugat Arah Diplomasi PBNU & Jebakan Normalisasi Israel”.

Hadir sebagai narasumber utama pengamat politik kawakan Prof. Greg Fealy (The Australian National University), akademisi Prof. Dr. KH. Hanief Saha Ghafur, dan Kepala Program Studi Hubungan Internasional UIN Jakarta Dr. Robi Sugara. Dialektika dalam rembuk ini tidak lagi berjalan normatif, melainkan menjadi mimbar gugatan terbuka terhadap arah kebijakan elitis Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang dinilai telah mengalami disorientasi moral dan kerapuhan tata kelola akut.

1.Diplomasi Elitis Hotel Mewah dan Paradox Ketergantungan Dana

Dalam paparannya, Prof. Greg Fealy mengkritik tajam bahwa kampanye internasional PBNU seperti Religion Twenty(R20) dan jargon Humanitarian Islam gagal total di tingkat akar rumput (grassroots). Inisiatif global tersebut dinilai hanya menjadi komoditas panggung elitis di hotel-hotel mewah yang kehilangan sentuhan teologis maupun sosiologis riil. Fealy juga menyoroti dominasi figur asing bermasalah seperti Holland Taylor yang dinilai menyetir narasi internasional NU tanpa memahami sosiologi Islam Indonesia.

Kritik ini diperlebar oleh Dr. Robi Sugara yang menyatakan bahwa PBNU telah kehilangan independensinya sebagai aktor non-negara (non-state actor). Akibat ketergantungan akut pada fasilitas dan pembiayaan negara (state-funded diplomacy), NU direduksi menjadi sekadar “kepanjangan tangan” agenda pemerintah. Dampaknya fatal: PBNU lumpuh dan absen bersuara secara independen saat dihadapkan pada krisis kemanusiaan nyata atau konflik keumatan global.

2.Menolak Jebakan Normalisasi Israel: Waspada Infiltrasi Pro-Zionisme

Baca juga  Koordinasi dengan Polsek Cinere, Ketua MWC NU: Aman itu Ada Prosesnya

Rembuk warga ini memberikan catatan merah yang sangat keras terhadap isu sensitif normalisasi hubungan dengan Israel. Menanggapi wacana taktis pembukaan hubungan diplomatik, Prof. Dr. KH. Hanief Saha Ghafur secara tegas memperingatkan bahaya pengeroposan internal PBNU yang tidak memiliki sistem safeguarding (perlindungan kelembagaan) yang ketat.

Tanpa tata kelola yang bersih (good governance), PBNU dinilai sangat rapuh dan rawan disusupi oleh kepentingan asing, termasuk infiltrasi agenda pro-Zionisme global ke dalam sistem kaderisasi NU. Mengutip kaidah al-haqqu bila nizamin yaglibuhul batil binizamin (kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir), Prof. Hanief mendesak PBNU menyetop “halusinasi” panggung dunia luar sebelum mampu membereskan keruwetan di rumahnya sendiri.

Sementara itu, Dr. Robi Sugara mendesak agar Fatwa Jihad NU diaktualisasikan kembali dalam konteks modern. Bukan sebagai mobilisasi kekerasan, melainkan sebagai kompas moral universal untuk melawan segala bentuk dehumanisasi, penindasan, dan pembelaan total tanpa kompromi terhadap hak-hak rakyat Palestina atas penjajahan Israel.

3.9 Maklumat Desakan Penyelamatan Organisasi: Bersihkan Infiltrasi, Kembalikan Khittah!

Merespons sengkarut disorientasi di tubuh elite, Rembug Warga NU Seri 3 menetapkan sembilan maklumat desakan radikal yang wajib segera dieksekusi demi menyelamatkan masa depan jamiah:

1. Sapu Bersih Infiltrasi Pro-Zionisme & Agen Asing: Mendesak pembersihan total di seluruh lini struktur kaderisasi dan kepengurusan dari penyelundupan agenda asing yang mengancam kompas moral Nahdlatul Ulama.
2. Amputasi Syahwat Politik Kekuasaan: PBNU harus segera meluruskan kembali kiblatnya agar tidak terus-menerus diseret menjadi tameng politik praktis dan alat legitimasi kekuasaan elitis.
3. Putus Rantai Ketergantungan Dana Negara: Boikot state-funded diplomacy. NU harus kembali berdaulat secara finansial agar tidak lumpuh dan tersandera oleh kepentingan pendanaan sepihak yang mengebiri sikap kritis organisasi.
4. Hentikan “Diplomasi Pariwisata” di Hotel Mewah: Setop menghamburkan energi untuk konferensi elitis internasional yang nir-manfaat. Alihkan seluruh instrumen diplomasi ke model people-to-people diplomacy yang berdampak langsung pada urat nadi umat di akar rumput (grassroots).
5. Seret Aktor Bermasalah ke Majelis Tahkim: Aktifkan dan fungsikan kembali Majelis Tahkim serta Dewan Etik sebagai “pagar besi” institusi untuk mengadili pengurus yang terindikasi menjadi perpanjangan tangan agenda geopolitik luar negeri yang merugikan NU.
6. Buka Brankas & Audit Transparansi Dana Internasional: Desak PBNU membuka secara telanjang ke publik mengenai seluruh sumber pendanaan, aktor yang terlibat, dan kesepakatan di balik program-program internasional kelembagaan demi akuntabilitas publik.
7. Rombak Total Struktur berbasis Good Governance: Hentikan degradasi tata kelola organisasi yang dijalankan seolah milik pribadi. Struktur internal PBNU harus segera direformasi total secara transparan dan berbasis musyawarah, bukan instruksi sepihak.
8. Setop “Mengukir Awan” dengan Retorika Kosong: Hentikan segala jargon muluk seperti “Fikih Peradaban” jika di lapangan gagal menjadi solusi atas kemiskinan, penindasan, dan krisis kemanusiaan. Jika program tidak memiliki target indikatif dan asas manfaat yang riil bagi umat, stop!
9. Revolusi Sistem Kaderisasi: Rombak total model kaderisasi seremonial dan formalitas. Sistem kaderisasi NU harus dikembalikan fungsinya sebagai kawah candradimuka benteng ideologi yang membentengi Nahdliyin dari ancaman penetrasi ideologi asing.

Baca juga  Ketua Pergunu Hadiri S2M3ART Day: Pameran Kreativitas Siswa SD dan SMP di Depok

4.Langkah Gerakan: Menuju Muktamar Nahdliyin di Tambakberas
Sebagai bentuk perlawanan konkret dan jawaban atas mandeknya perubahan di tingkat elite, Koordinator Forbes NU 26, Dr. KH. Abdul Waidl, M.A., mengumumkan langkah gerakan nyata berikutnya. Bersama dengan jaringan kelompok NU Muda dari berbagai kota, Forbes NU 26 direncanakan akan menggelar Muktamar Nahdliyin (Muktamar Tandingan Warga) yang akan dilaksanakan di Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus mendatang, bertepatan dengan momentum muktamar formal.

Gerakan ini diinisiasi untuk mengonsolidasikan kembali suara warga Nahdliyin yang rindu akan ketelantangan moral para kiai sepuh, kemandirian organisasi, dan tata kelola yang bersih. Seri diskusi ke-4 sebagai konsolidasi lanjutan juga akan segera dilaksanakan menjelang agenda di Tambakberas tersebut.

Kontributor: Hakim Hasan

Dukungan Anda Sangat Berarti 😊

Yuk bantu perjuangan LTN NU Kota Depok menyebarkan informasi kegiatan NU dengan melakukan pembayaran melalui QRIS berikut:

QRIS Pembayaran

Terima kasih atas kontribusi Anda 🙏