Jakarta, 10 Desember 2025 — Ruang sidang promosi doktor Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (SPPB UI) hari ini menjadi saksi lahirnya sebuah kajian strategis yang tidak hanya penting bagi dunia akademik, tetapi juga menyentuh denyut diplomasi global Indonesia. Achmad Solechan, kandidat doktor yang menjalani ujian terbuka disertasinya, menghadirkan sebuah penelitian yang memetakan peran internasional Nahdlatul Ulama (NU) dalam percaturan hubungan antarbangsa—sebuah tema yang relevansinya kian terasa di tengah dunia yang rentan polarisasi dan krisis kemanusiaan.
Dalam disertasi berjudul “Peran Internasional Nahdlatul Ulama dalam Relasi Antar bangsa Melalui Multi-Track Diplomacy: Pendekatan Konstruktivis terhadap Organisasi Keagamaan sebagai Non-State Actor, Achmad menegaskan bahwa organisasi keagamaan kini bukan lagi pemain pinggiran dalam diplomasi global. NU, dengan kekuatan jaringan, nilai, dan jejak historisnya, terbukti tampil sebagai aktor transnasional yang mampu menjembatani dialog, meredakan konflik, dan menawarkan arah moral dalam isu-isu dunia.
Penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif dan wawancara mendalam ini memperlihatkan bagaimana NU mengekspresikan nilai-nilai moderasi—dari tawassuth, tasamuh, hingga istiqamah—tidak semata sebagai slogan, melainkan sebagai kerangka kerja diplomasi. Achmad menunjukkan bahwa nilai itu mewujud dalam aksi konkret: mediasi Afghanistan, keterlibatan dalam isu Thailand Selatan, forum global R20, serta advokasi kemanusiaan di berbagai negara.

Di hadapan ketua sidang Prof. Dr. Drs. Supriatna, M.T., para promotor dan penguji, Achmad memaparkan bagaimana pendekatan Multi-Track Diplomacy mampu menjelaskan mobilitas NU pada berbagai arena—dari jalur resmi hingga diplomasi kultural, dari forum elite hingga jaringan diaspora PCINU.
Tidak hanya memotret capaian, penelitian ini juga menyoroti tantangan. NU, menurut Achmad, masih perlu mengonsolidasikan strategi global, memperkuat kapasitas sumber daya, dan memaksimalkan potensi diaspora. Dunia yang semakin kompleks menuntut NU untuk lebih adaptif dalam menjawab isu-isu kemanusiaan, krisis politik, hingga gelombang radikalisme.
Sebagai jawaban, Achmad mengusulkan kerangka konseptual MiND Model (Multidimensional Non-State Diplomacy) yang terdiri atas lima pilar—nilai, arena, humanitarian, multi dimensi, dan aksi. Model ini dirancang sebagai pedoman strategis agar NU dapat memperkuat posisi diplomatiknya pada masa mendatang.
Para penguji, mulai dari Prof. Yon Machmudi, Ph.D., Dr. Nurwahidin, M.Ag, Dr. Mulawarman Hannase, hingga Dr. M. Imdadun Rahmat, menguji kedalaman analisis dan ketajaman argumentasi yang dibangun. Disertasi ini dinilai bukan hanya memberi kontribusi akademik, tetapi juga membuka ruang diskusi baru bagi diplomasi Indonesia—bahwa aktor non-negara bisa menjadi jembatan solusi di tengah dunia yang terfragmentasi.
Bagi Achmad Solechan, momentum sidang hari ini bukan sekadar pencapaian akademik, tetapi juga penegasan bahwa Indonesia memiliki modal besar dalam diplomasi berbasis nilai. Sementara bagi publik, penelitian ini menjadi pengingat bahwa kekuatan Indonesia di panggung global tidak hanya berada di tangan negara, tetapi juga pada organisasi keagamaan yang memiliki legitimasi moral dan jaringan transnasional.
Di tengah krisis global yang tak kunjung reda, riset ini menghadirkan optimisme: bahwa diplomasi damai, inklusif, dan berbasis nilai tetap punya masa depan—dan NU berada di garis depan upaya itu.
Dukungan Anda Sangat Berarti 😊
Yuk bantu perjuangan LTN NU Kota Depok menyebarkan informasi kegiatan NU dengan melakukan pembayaran melalui QRIS berikut:
Terima kasih atas kontribusi Anda 🙏


![[OPINI] Hari Santri 2025: Mengukuhkan Amanah Konstitusi, Menguatkan Kecakapan Kontemporer WhatsApp Image 2025 10 10 At 08.16.34](https://i0.wp.com/pcnudepok.com/wp-content/uploads/2025/10/WhatsApp-Image-2025-10-10-at-08.16.34.jpeg?resize=150%2C150&ssl=1)


