Depok – Keluarga besar Pesantren Al-Hamidiyah menggelar Haul ke-3 almaghfurlah KH Zainuddin Maksum Ali di kediaman keluarga yang berada di belakang kompleks Pesantren Al-Hamidiyah, Pancoran Mas, Kota Depok, Jum’at malam (17/7/2026).
Acara diawali dengan pembacaan tahlil dan doa yang dipimpin oleh KH Jauhari Sadji. Ratusan jamaah yang terdiri atas keluarga, santri, alumni, tokoh agama, dan masyarakat turut hadir untuk mendoakan almarhum serta mengenang perjuangannya dalam dunia pesantren, Nahdlatul Ulama, dan thariqah.
Menantu almarhum, KH Abdul Rasyid, yang juga alumni pendidikan di Irak dan santri Pesantren Al-Hamidiyah, mengajak seluruh jamaah untuk menghadiahkan doa terbaik bagi almarhum.
“Pada haul ke-3 ini, kita hadir untuk mendoakan agar Allah SWT menjadikan makam Buya sebagai raudhah min riyadhil jannah. Kita juga berdoa agar Pesantren Al-Hamidiyah yang memasuki usia ke-38 tahun senantiasa diberikan keberkahan, terus eksis memberikan pelayanan kepada umat, serta istiqamah mencetak generasi santri yang berilmu dan berakhlak mulia,” ujarnya.
Dalam sambutannya, putra almarhum, Gus Azman Ridho, mengenang perjalanan panjang ayahnya yang selama kurang lebih 23 tahun mengabdikan diri di Kota Depok melalui Pesantren Al-Hamidiyah.
Menurutnya, ada tiga bidang utama yang menjadi jejak pengabdian almarhum, yakni pengembangan Pesantren Al-Hamidiyah, perjuangan di lingkungan Nahdlatul Ulama, serta pembinaan thariqah melalui Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN).
Gus Azman menuturkan bahwa almarhum selalu menanamkan pentingnya mengikuti ajaran Rasulullah SAW dalam menjalankan kehidupan beragama serta menempuh jalan spiritual melalui bimbingan para ulama.
Ia juga mengenang kesederhanaan almarhum yang sepanjang hidupnya lebih mengutamakan dakwah dan pelayanan kepada umat.
“Buya mengajarkan kepada kami untuk mendahulukan Allah dan kepentingan umat. Beliau wafat pada usia 82 tahun, dua hari setelah mengisi pengajian. Sampai akhir hayatnya, beliau tetap berdakwah dan melayani masyarakat,” katanya.
Menurut Gus Azman, salah satu kitab yang sering menjadi pegangan almarhum adalah Kanzun Najah was Surur, karya seorang ulama asal Kudus yang ditulis di Makkah. Kitab tersebut berisi berbagai doa dan amalan yang diajarkan kepada masyarakat sebagai bagian dari ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Modern Darus Sholihin, KH Ahmad Dimyathi Badruzzaman, dalam tausiyahnya menyampaikan bahwa haul merupakan momentum untuk mendoakan, meneladani, sekaligus mengambil pelajaran dari kehidupan orang-orang saleh yang telah wafat.
Menurutnya, terdapat tiga hikmah utama dari pelaksanaan haul.
Pertama, mendoakan almarhum. Ia menjelaskan bahwa doa dari keluarga, sahabat, dan kaum Muslimin yang masih hidup merupakan hadiah yang sangat berharga bagi mereka yang telah berada di alam kubur.
“Dalam berbagai penjelasan ulama disebutkan bahwa ahli kubur sangat mengharapkan kiriman doa dari anak, keluarga, dan kerabatnya. Karena itu, haul menjadi momentum untuk menghadiahkan doa terbaik bagi mereka yang telah mendahului kita,” ujarnya.
Kedua, mengingat dan meneladani kebaikan orang yang telah meninggal dunia. KH Ahmad Dimyathi mengaku memiliki hubungan yang cukup lama dengan almarhum sejak aktif di berbagai kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan di Kota Depok.
Ia menilai KH Zainuddin Maksum Ali sebagai sosok yang istiqamah, sederhana, dermawan, serta bersungguh-sungguh dalam mengabdi kepada umat.
“Buya adalah seorang pendidik dan pembimbing umat yang mengajarkan banyak ilmu bermanfaat. Beliau mengajarkan kitab Al-Adzkar karya Imam an-Nawawi, berbagai doa, dzikir, serta nilai-nilai keislaman yang hingga hari ini terus diamalkan oleh para muridnya,” katanya.
Menurutnya, seluruh amal jariyah yang ditinggalkan almarhum, baik berupa ilmu yang bermanfaat, pendidikan pesantren, maupun murid-murid yang saleh, akan terus mengalirkan pahala sebagaimana sabda Rasulullah SAW tentang tiga amalan yang tidak terputus setelah seseorang wafat.
Ketiga, haul menjadi pengingat bahwa setiap manusia pada waktunya akan menyusul mereka yang telah lebih dahulu dipanggil Allah SWT.
“Kematian adalah kepastian yang tidak bisa dihindari. Yang terpenting bukan kapan kita meninggal, melainkan bagaimana mempersiapkan bekal terbaik selama hidup di dunia ini agar memperoleh husnul khatimah,” tuturnya.
Ia mengajak seluruh jamaah untuk memanfaatkan kesempatan hidup dengan memperbanyak amal saleh, memperkuat ibadah, serta meningkatkan pengabdian kepada agama dan masyarakat.
Haul ke-3 KH Zainuddin Maksum Ali berlangsung khidmat dan penuh kekeluargaan. Selain menjadi ajang silaturahmi keluarga besar Al-Hamidiyah, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk melanjutkan nilai-nilai perjuangan almarhum dalam bidang pendidikan, dakwah, Nahdlatul Ulama, dan thariqah.
Pewarta: Abdul Mun’im Hasan
Dukungan Anda Sangat Berarti 😊
Yuk bantu perjuangan LTN NU Kota Depok menyebarkan informasi kegiatan NU dengan melakukan pembayaran melalui QRIS berikut:
Terima kasih atas kontribusi Anda 🙏




