Sahur Keliling Nyai Shinta Nuriyah di Gereja Depok: “Satu Nusa Satu Bangsa, Itulah Semboyan Kita”

whatsapp image 2026 03 16 at 21.22.48

Pancoran Mas, 16 Maret 2026 – Suasana sahur yang berbeda terasa di Gereja Kristen Pasundan (GKP) Jemaat Depok, Kelurahan Pancoran Mas, Kota Depok, pada Senin dini hari, 16 Maret 2026. Istri mendiang Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Hj. Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, menggelar kegiatan Sahur Keliling Bersama 2026 sebagai wujud nyata mempererat silaturahmi, persaudaraan, dan semangat kebangsaan di tengah masyarakat.

Mengusung tajuk “Puasa Berbalut Bencana dan Goyangnya Demokrasi” , kegiatan yang dilaksanakan di beberapa gereja di berbagai daerah Indonesia ini untuk pertama kalinya digelar di GKP Depok. Kehadiran tokoh nasional yang akrab disapa Nyai Shinta Nuriyah Wahid tersebut disambut hangat oleh jemaat dan pengurus gereja.

Turut hadir memeriahkan acara tersebut sejumlah pengurus dan kader Nahdlatul Ulama Kota Depok, antara lain pengurus PCNU Kota Depok, barisan GP Ansor dan Banser, serta jajaran MWC NU Pancoran Mas dan MWC NU Sukmajaya. Dari sisi pemerintah hadir pula utusan Walikota Kepala Kesbangpol Kota Depok, DR. Dudi Miraz & Ibu Camat Sukmajaya, Christine Desima Arthauli, S.STP, M.A dalam kegiatan tersebut. Kehadiran mereka menunjukkan solidaritas lintas iman sekaligus memperkuat pesan toleransi yang ingin disampaikan dalam kegiatan sahur keliling ini.

Menjaga Persatuan di Tengah Goyangan Demokrasi

Dalam sambutannya, Nyai Shinta Nuriyah menyampaikan bahwa kegiatan sahur bersama seperti ini sudah sering ia adakan di berbagai tempat, khususnya bersama kaum duafa dan marginal. Namun, untuk di GKP Depok, ini merupakan pengalaman pertama yang sangat berkesan.

“Saya sering mengadakan kegiatan seperti ini di mana-mana, bersama kaum duafa dan marginal. Untuk di GKP Depok, baru pertama kali,” ujarnya dengan penuh kehangatan di hadapan jamaah yang hadir.

Baca juga  PRNU Bojongsari Resmi Dilantik untuk Masa Khidmat 2026–2031

Mengangkat tema yang relevan dengan situasi kebangsaan saat ini, Nyai Shinta mengingatkan bahwa meskipun berbagai hal seperti kursi DPR boleh diperebutkan, namun semangat membangun bangsa harus tetap menjadi prioritas utama.

“Kursi DPR boleh diperebutkan, tetapi untuk membangun bangsa dan negara Indonesia, tidak boleh untuk memecah belah negara,” tegasnya.

Ia pun mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. “Satu nusa satu bangsa, itulah semboyan kita semua. Apapun agama, apapun sukunya, kita tetap Indonesia,” pungkasnya.

Nyai Shinta berharap kegiatan ini menjadi momentum kebersamaan dan dialog lintas iman sekaligus mempererat persaudaraan, khususnya dalam semangat kebangsaan dan toleransi di tengah masyarakat yang semakin beragam.

Gembira dan Bangga: GKP Depok Jadi Tuan Rumah

Sementara itu, Pendeta Yuyun Noormalia Madjiah mengaku tidak dapat menyembunyikan rasa gembira dan bangganya atas kedatangan istri Presiden RI ke-4 tersebut. Menurutnya, kehadiran Nyai Shinta menjadi langkah luar biasa bagi jemaat GKP Depok.

“Ini menjadi langkah yang luar biasa bagi kami. Kenapa? Karena ini baru pertama kali di GKP Depok dan mungkin pertama bagi gereja-gereja. Ketika seorang tokoh bangsa, bahkan istri Presiden, mempercayakan sebuah event lintas iman dan yang diundang justru berbeda keyakinan dengan kami yang Kristen, dan semuanya welcome, itu sungguh mengharukan. Apalagi hari ini kami juga didatangi oleh pengurus PCNU, Ansor, Banser, MWC NU Pancoran Mas dan Sukmajaya, ini benar-benar pemandangan yang indah,” ujar Pendeta Yuyun.

Ia menilai momentum ini menjadi sebuah pelajaran berharga, terutama dalam melihat perkembangan Kota Depok saat ini. “Saya ingat Setara Institute pernah mencatat Depok sebagai kota yang paling intoleran. Dan hari ini menjadi sebuah bukti bahwa itu adalah masa lalu. Depok sekarang sudah sangat berbeda dengan Depok beberapa tahun yang lalu,” pungkasnya.

Baca juga  OTT KPK Hakim Depok, Pengamat: Pengawas Hakim Dipertanyakan Keaktifannya

Harapan ke Depan: Depok Kota Inklusif

Pendeta Yuyun berharap kegiatan sahur keliling ini dapat menjadi gelombang besar yang mampu membangun dan menjalin silaturahmi yang sangat erat antar umat beragama. “Semoga ke depannya Depok menjadi kota inklusif yang ramah bagi semua agama, suku bangsa, dan golongan, sesuai dengan kehendak Tuhan,” tutupnya.

Kegiatan sahur bersama yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban ini menjadi bukti nyata bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk saling menghormati, berbagi, dan memperkuat persaudaraan kebangsaan. Suasana khidmat dan hangat terasa hingga azan Subuh berkumandang, menandai berakhirnya rangkaian acara yang penuh makna tersebut.

Dukungan Anda Sangat Berarti 😊

Yuk bantu perjuangan LTN NU Kota Depok menyebarkan informasi kegiatan NU dengan melakukan pembayaran melalui QRIS berikut:

QRIS Pembayaran

Terima kasih atas kontribusi Anda 🙏