Senin kemarin, 5 Oktober 2026 Indonesia memperingati Hari ABRI atau Hari Tentara Nasional Indonesia (TNI). Hari TNI diperingati setiap 5 Oktober 1945 karena pada tanggal tersebut, pemerintah Indonesia membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sebagai angkatan perang pertama setelah Indonesia merdeka.
Bertepatan dengan tanggal 5 Oktober ini pula almarhum Buya KH. Zainudin Ma’shum Ali dilahirkan di desa Sanankerto Turen Malang Jawa Timur pada tahun 1941. Berdasarkan data ini berarti Buya Zainuddin berumur 4 tahun pada saat ditetapkannya tanggal 5 Oktober sebagai Hari TNI.
Meskipun tidak ada hubungan antara kelahiran Buya Zainuddin dan kelahiran TNI, namun ada hal yang menarik dari Sosok Buya sehingga tulisan mengenang sosok beliau layak dimunculkan di saat peringatan Hari TNI tahun 2026 ini.
TNI sebagaimana lazim diketahui, identik dengan prinsip dan dokrin perjuangan, nasionalisme, kedisiplinan, semangat juang pantang menyerah dan keberanian saat berada di medan perang ketika menghadapi musuh. Dalam berjuang membesarkan NU, Buya juga mampu menerapkan prinsip dan doktrin tersebut dalam menghadapi medan dakwah yang sangat dinamis di manapun Buya berada.
Nilai-nilai tersebut ternyata kuat terpatri dalam jiwa kepribadian Buya Zainuddin. Sejak pertama kali terjun di medan dakwah di Pulau Nias tahun 1969, Buya sudah menghadapi tantangan yang cukup berat dalam memperjuangkan Islam ala NU di pulau Nias yang mayoritas penduduknya beragama Nasrani tersebut.
Pengalaman membuktikan, bahwa selama 20 tahun mengabdi memperjuangkan nilai-nilai aswaja dan membesarkan NU, Buya diakui oleh semua murid-muridnya dan masyarakat Muslim pulau Nias telah berhasil menorehkan tinta emas perkembangan NU yang cukup signifikan di pulau Nias. Nilai-nilai moderasi, kemampuan negosiasi dan toleransi tingkat tinggi di tengah lingkungan yang sangat heterogen di tengah mayoritas Nasrani telah berhasil diusung oleh Buya untuk menjadikan Islam naik level dan dapat diterima dengan baik oleh seluruh penduduk Nias. Buya tercatat telah berhasil mengislamkan ratusan penduduk Nias sehingga berubah menjadi muslim yang taat dan cukup militan dalam memperjuangkan perkembangan NU di Pulau Nias.
Keberhasilan tersebut menjadi modal kuat bagi Buya sehingga saat berkiprah dan mengabdi di Depok, memperjuangkan NU di kota Depok relatif lebih mudah, tidak seberat yang pernah dilakukannya selama 20 tahun berjuang di Pulau Nias.
Sejak menjadi Pengasuh Pesantren Al-Hamidiyah tahun 2000 sampai meninggal tahun 2023 lalu, Buya dikenang sebagai ulama paling sepuh yang memperjuangkan NU sampai di level tertinggi. Buya Zainuddin tercatat 2 kali menjadi Rais Syuriah PCNU Depok. Saat meninggal masih menjabat sebagai Ketua Dewan Syuro PKB Depok dan Wakil Rais Syuriah PCNU Depok. Buya juga masih menjabat sebagai Rosi Robi’ (Ketua 4) Idarah Aliyah Jam’iyyah Ahlit Thoriqoh Al-Mu’tabarah An-Nahdhiyyah (JATMAN) di bawah kepemimpinan Rois Aam Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya.
Buya masih menjabat sebagai Ketua Dewan Mustasyar Pesantren Al-Hamidiyah saat beliau meninggal. Pesanren Al-Hamidiyah adalah pesantren peninggalan KH. Achmad Sjaichu, mantan Ketua MPRS yang melantik Soeharto jadi Presiden menggantikan Presiden Soekarno. Beliau juga Ketua PBNU pada masanya, di bawah kepemimpinan KH. Idham Kholid yang menjadi Ketua Tafdziyah PBNU pada waktu itu, KH. Idham Kholid lah yang mengutus Buya Zaiuddin untuk mengemban misi Islam di Pulau Nias dalam rangka menyebarkan paham ahlus sunnah ala NU untuk muslim Nias yang berjumlah sekitar 3-5 persen di tengah dominasi Narani yang menjadi penduduk mayoritas di Pulau Nias.
Sebagai alumni Pesantren Al-Muayyad, pesantren NU terbesar di kota Solo dan Pesantren Tebu Ireng Jombang, pesantren yang menjadi tempat lahirnya pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari dan anak keturunannya, pola pikir, semangat perjuangan, trah NU, nasab keilmuan Buya tentu tidak diragukan lagi. Apalagi ayahanda Buya Zainuddin, KH. Ma’shum Ali tercatat pernah berguru langsung kepada KH. Hasyim Asy’ari.
Saat pertama merantau ke Jakarta pada era tahun 1960 an, Buya sudah berjuang di IPNU, Ansor dan PBNU bersama dengan almarhum KH. Nuril Huda, Pendiri PMII dan Ketua LDNU pada masa KH. Hasyim Muzadi. Bersama dengan KH. Nuril Huda KH. Baidhowi Adnan, dan lain-lain mereka termasuk perintis perjuangan NU di masa-masa sulit di tahun 1960 an.
Berbekal pengalaman dan perjuangan panjang dalam membesarkan NU, KH. Zainuddin Ma’shum Ali layak ditempatkan sebagai tokoh Pejuang NU sejati yang berjuang dari usia muda sampai wafat pada usia 82 tahun di tahun 2023 lalu.
Beberapa bulan lalu, tanggal 29 Juli 2026 bertepatan dengan 3 tahun meninggalnya Buya KH. Zainuddin Ma’shum Ali. Buya Zainuddin meninggal Sabtu sore tanggal 29 Juli 2023 dalam usia 82 tahun setelah sehari sebelumnya divonis dokter memiliki penyakit jantung yang harus segera dioperasi untuk pemasangan ring. Buya Zainuddin tercatat sebagai pengasuh Pesantren Al-Hamidiyah terlama yang menjabat sejak tahun 2000 sampai 2015 dan masih terus berkiprah di Pesantren Al-Hamidiyah sebagai Ketua Dewan Pengasuh Pesantren sampai akhir hayatnya tahun 2023.
Zainuddin Ma’shum Ali berhasil menempatkan dirinya sebagai salah satu tokoh ulama sentral di kota Depok berkat konsistensinya dalam memperjuangkan dakwah Islam di kota Depok.
Beliau aktif dalam berbagai organisasi masayarakat dan berbagai aktifitas dakwah Islam lainnya. Sepanjang perjalanan dakwah di Depok, KH. Zainuddin Ma’shum tercatat pernah menjabat sebanyak dua kali sebagai Rois Syuriah PCNU Kota Depok (tahun 2004-2009) dan tahun 2014-2019), salah satu Ketua MUI Depok (2010-2015) dan Penasehat MUI kota Depok (2019-2024), Pengurus FKUB Kota Depok, Pembina dan Pengurus Basolia (Badan Sosial Lintas Agama) kota Depok, Ketua Dewan Syuro PKB kota Depok (2019-2024), Salah satu Ketua Pengurus Pusat Jam’iyyah Ahlut Thoriqoh Al-Mu’tabarah An-Nahdhiyyah (JATMAN) selama dua periode (2015-2019 dan 2019-2024) di bawah kepemimpinan Habib Lutfi bin Ali bin Yahya serta sederet jabatan lainnya yang beliau emban sampai menjelang tutup usia dalam usia 82 tahun.
Kedatangan Buya Zainuddin ke Depok tahun 2000 karena diminta untuk menjadi pengasuh Pesantren Al-Hamidiyah, pesantren terbesar dan termaju di kota Depok yang didirikan oleh almarhum KH. Achmad Sjaichu. KH. Achmad Sjaichu sendiri merupakan tokoh sentral NU pada masanya. Selain menjabat sebagai salah satu Ketua PBNU, KH. Achmad Sjaichu pernah menjabat sebagai Presiden Dewan Pusat Organisasi Islam Asia Afrika, Ketua PBNU maupun Ketua DPRGR serta pendiri Ittihadul Muballighin.
Sepeninggal KH. Achmad Sjaichu Pesantren Al-Hamidiyah dipimpin oleh beberapa tokoh Kyai NU secara bergantian. KH. Ahmad Dimyathi Badruzzaman, KH. Ali Mustafa Ya’kub, KH. Muhammad Hamdan Rasyid, KH. Zainuddin Ma’shum Ali, KH. Ahmad Zarkasih, dan saat ini dipimpin oleh Prof. Dr. KH. Oman Fathurrahman M.Hum.
Terdapat banyak pengalaman dan prestasi luar biasa yang berhasil ditorehkan KH. Zainuddin Ma’shum selama menjadi pengasuh Pesantren Al-Hamidiyah. Di awal kepemimpinan beliau, pesantren ini sedang mengalami masa transisi dan butuh pembenahan serius agar dapat bertahan di tengah berbagai problematika yang dihadapi. Baik itu pembenahan kondisi internal kehidupan sehari-hari di pesantren, pembenahan kualitas pendidikan dan kelembagaan dan lain sebagainya. Dengan tangan dingin KH. Zainuddin Ma’shum yang memadukan antara ikhtiar langit dan bumi, Al-Hamidiyah akhirnya berubah menjadi pesantren unggulan dan semakin punya nama besar di Depok.
Diantara hal yang cukup fenomenal saat KH. Zainuddin Ma’shum memimpin Pesantren Al-Hamidiyah adalah keberhasilan menghadirkan Wakil Presiden RI, Hamzah Has tahun 2010. Kedatangan Wapres Hamzah Has waktu itu menandai acara puncak Harlah Al-Hamidiyah ke 20 tahun yang gaungnya cukup besar dan dianggap salah satu acara besar paling sukses yang pernah diadakan Pesantren Al-Hamidiyah Depok.
Selain itu, kiprah KH. Zainuddin Ma’shum sebagai penggerak dan pelopor perkembangan Thariqah di bawah organisasi Jam’iyyah Al-Mu’tabarah An Nahdhiyyah (JATMAN) kota Depok mendapatkan keberkahan tersendiri dengan hadirnya Habib Lutfi bin Ali Bin Yahya di Pesantren Al-Hamiyah tahun 2012. Sejak itulah organisasi JATMAN di Depok semakin berkembang maju memperkuat eksistensi Nahdhatul Ulama di Depok.
Diantara buah manis dari konsistensi beliau dalam berdakwah, beberapa kali KH. Zainuddin Ma’shum mendapatkan hadiah haji gratis dari berbagai pihak. Dari Wali Kota pertama Depok, H. Badrul Kamal, dari Wakil Gubernur Jawa Barat, H. Dani Setiawan, dan dua kali dari Pesantren Al-Hamidiyah. Sepanjang hidup beliau, KH. Zainuddin Ma’shum tercatat pernah 5 kali naik haji.
Bersama istrinya, KH. Zainuddin Ma’shum pernah berhasil menjadi pemenang Keluarga Sakinah Teladan Tingkat Jawa Barat yang mengantarkan beliau berhasil mengikuti kontestasi Keluarga Sakinah Teladan Tingkat Nasional tahun 2012. Setelah itu selama dua tahun berturut-turut KH. Zainuddin Ma’shum menjadi satu-satunya peserta lomba tersebut yang naik level menjadi juri lomba pemilihan Keluarga Sakinah Teladan Tingkat Nasional yang sekarang berubah nama menjadi keluarga Maslahah.
Sebelum berkiprah di Depok, KH. Zainuddin Ma’shum Ali tercatat pernah berkiprah sebagai guru di Pesantren Al-Muayyad, pesantren NU yang terbesar dan termaju di Solo Jawa Tengah. Konsistensi dakwah KH. Zainuddin Ma’shum mengantarkan beliau dari yang hanya sekedar khatib masjid kampung di sekitar kediamannya di Solo sampai akhirnya menjadi salah satu khatib yang sering tampil di Masjid Istana Surakarta. Konsistensi KH. Zainuddin Ma’shum dalam dunia dakwah ditambah lagi dampak positif setelah berbaiat dan menjadi murid Habib Lutfi bin Ali bin Yahya sebagai jamaah Thariqah Tsadziliyah mengantarkan KH. Zainuddin Ma’shum pada pencapaian derajat dan kedudukan yang semakin lama semakin meningkat levelnya.
Sebelum tinggal di Solo, KH. Zainuddin Ma’shum mengabdi sebagai da’i pembangunan utusan PBNU di pulau Nias selama 21 tahun dari 1969 sampai 1990. Beliau berhasil mengembangkan dakwah ala NU di Pulau Nias di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas beragama Nasrani. Selama berdakwah di pulau Nias, tak terhitung sudah berapa kali beliau mengislamkan penduduk Nias. Dari ribuan murid dan jamaah yang pernah mendapatkan pencerahan ilmu agama dari KH. Zainuddin Ma’shum, ratusan diantaranya kelak berhasil menjadi penerus perjuangan beliau dan menjadi tokoh agama maupun mewarnai kehidupan beragama ala NU di pulau Nias maupun daerah lain di mana mereka tinggal.
Boleh dibilang, perkembangan NU di pulau Nias tidak lepas dari sosok KH. Zainuddin Ma’shum yang mengawal NU sampai akhirnya berkembang maju menjadi corak beragama mayoritas muslim selama Buya berdakwah di pulau Nias.
Diantara rahasia kesuksesan, sehat dan bugar maupun panjang umur KH. Zainuddin Ma’shum adalah kemampuan dalam menjaga dan mengharmonisasikan pola pikir, pola makan dan pola ibadah selain juga sikap kedisiplinan dan konsistensi dalam menekuni jalan dakwah. Prinsip ini didukung oleh sikap kepribadiannya yang sederhana, bersahaja, humoris, ramah, dermawan, tegas dan ikhlas. Selain itu diantara kelebihan beliau yang jarang dimiliki orang lain adalah kemauan untuk mengendarai motor sendiri untuk tujuan dakwah, baik pagi, siang atau pun malam yang dilakoni sampai menjelang wafat pada usia 82 tahun. Dan yang paling sulit dilupakan oleh para jamaah pengajian beliau adalah kebiasaan membagi-bagikan photo copy doa/amalan tertentu yang dibagikan kepada seluruh jamaah yang hadir saat beliau mengisi pengajian.
Dari keseluruhan kiprah dan pengabdian beliau dalam berdakwah yang dilakukan secara konsisten sepanjang hidup beliau, tidaklah heran kemudian kalau ada sebagian kalangan yang menempatkan beliau sebagai salah satu Kyai Khos Depok bahkan sebagai Paku Bumi Kota Depok.
Ditulis oleh: H. Azman Ridha Zain S.Ag, M.Si,Wakil Sekretaris PCNU Kota Depok
Dukungan Anda Sangat Berarti 😊
Yuk bantu perjuangan LTN NU Kota Depok menyebarkan informasi kegiatan NU dengan melakukan pembayaran melalui QRIS berikut:
Terima kasih atas kontribusi Anda 🙏




![[Opini] Tantangan Terbesar Pada Nahkoda Baru di Tubuh NU whatsapp image 2026 09 18 at 07.00.56](https://i0.wp.com/pcnudepok.com/wp-content/uploads/2026/09/WhatsApp-Image-2026-09-18-at-07.00.56.jpeg?resize=150%2C150&ssl=1)