Jerat “Kelompok Seberang” di Layar Kaca: Mengapa Kontroversi Agama Trans7 Terus Berulang?

Jerat “Kelompok Seberang” di Layar Kaca: Mengapa Kontroversi Agama Trans7 Terus Berulang?

Oleh:M. Nur Sholihin (Alumnus Lirboyo [Turats 2011], Ketua LFNU Depok)

​Televisi seharusnya menjadi cermin keberagaman, namun bagi Trans7, ia justru menjadi medan perang budaya yang tak berkesudahan. Masalah utamanya bukan sekadar kesalahan redaksi biasa, melainkan sebuah kesalahan fundamental dalam pemilihan referensi. Stasiun televisi ini, tanpa disadari atau sengaja, berulang kali mengambil rujukan dari kelompok minoritas yang cenderung radikal dan ekstremis untuk menyusun konten program agamanya.
Ironisnya, materi kontroversial ini kemudian diarahkan untuk menyerang, bahkan mendiskreditkan, kultur dan tradisi yang dipeluk oleh mayoritas Muslim di Indonesia yang berpaham washatiyah (moderat). Ini adalah resep instan untuk memicu kegaduhan.

​Dari Fatihah hingga Feodalisme: Jejak Panjang Kritik Program Islam

​Jika ditelusuri ke belakang, kontroversi ini bukanlah insiden tunggal. Ada pola yang konsisten dan menyakitkan. Ingat kembali pada tahun 2015, ketika acara “Berita Islami Masa Kini” berani mengkritik praktik hadiah Al-Fatihah—sebuah amalan yang sudah mendarah daging di tengah masyarakat? Kemudian, jauh sebelumnya di tahun 2013, program “Khazanah” membuat geger dengan menarasikan bahwa bacaan shalawat Nariyah dan tawassul sebagai syirik; seolah-olah menganggap sesat jutaan umat Islam tradisional. Puncaknya, yang paling baru di 2025, adalah ketika program “Xpose Uncensored” mencerabut makna luhur adab santri menunduk dan menghormat kepada kiai—sebuah warisan kultural keilmuan—lalu menstigmanya secara dangkal sebagai feodalisme dan sikap berlebihan.

​Sindikat Ekstremis di Dapur Redaksi?

​Lantas, mengapa program-program Trans7 yang seharusnya edukatif ini justru tampil sebagai penabur konflik? Jawabannya mungkin ada di dalam dapur redaksi itu sendiri. Keberulangan isu yang selalu menyasar tradisi keagamaan mayoritas ini menimbulkan kecurigaan serius: Trans7 tampaknya menoleransi, atau bahkan dikendalikan, oleh “sindikat” pemikiran ekstremis yang selama ini menjadi kontributor utama. Kelompok ini agaknya beroperasi dengan pemahaman keliru bahwa ideologi mereka yang sempit adalah “syariat yang benar,” dan menggunakan platform publik untuk melancarkan serangan terhadap kearifan lokal keagamaan Indonesia.

Baca juga  Harlah ke-72 IPNU: Meneguhkan Khidmat Pelajar Menuju Peradaban Mulia

​Solusi Amputasi demi Marwah Penyiaran

​Jelas, masalah ini tidak akan selesai hanya dengan permintaan maaf dan teguran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Kontroversi akan terus beranak-pinak selama akar masalahnya masih bercokol kuat. Trans7 berada di persimpangan jalan: terus memelihara kontributor bermuatan ekstrem yang merusak tatanan sosial, atau melakukan “amputasi” segera terhadap pihak-pihak yang menyuntikkan narasi-narasi provokatif. Langkah ini bukan hanya penting untuk menjaga marwah institusi pesantren dan Muslim moderat, tetapi juga demi menyelamatkan Trans7 sendiri dari kehancuran kredibilitas di mata publik. Kegagalan untuk bertindak tegas berarti Trans7 secara tidak langsung telah memilih untuk menjadi penyebar pemahaman agama yang memecah-belah, alih-alih mempersatukan bangsa.

Dukungan Anda Sangat Berarti 😊

Yuk bantu perjuangan LTN NU Kota Depok menyebarkan informasi kegiatan NU dengan melakukan pembayaran melalui QRIS berikut:

QRIS Pembayaran

Terima kasih atas kontribusi Anda 🙏