Dari Arsenal dan Iran, Saya Belajar Tentang Arti Penderitaan dan Energi Moral

whatsapp image 2026 05 22 at 13.14.05

Ditulis oleh: Wakil Sekretaris PCNU Kota Depok, Moh Agus Fuat.

Kita hidup di zaman yang serba instan. Semua ingin cepat: sukses cepat, kaya cepat, bahkan bahagia pun ingin seketika. Dalam dunia seperti ini, kesabaran sering dianggap kelemahan. Padahal, justru dari sesuatu yang paling tidak instan, saya belajar tentang arti menunggu. Dan pelajaran itu datang dari klub sepak bola berjuluk Meriam London: Arsenal dan satu Bangsa tangguh bernama Iran.

Bagi Sebagian orang mungkin aneh menyandingkan Arsenal dengan Iran. Apa hubungan dua entitas ini yang jelas-jelas berbeda? Namun bagi saya ada kesamaan yang cukup mencolok. Sebagai sebuah narasi besar Arsenal dan Iran sama-sama memiliki sejarah panjang akan kebesaran, kejayaan, serta penderitaan panjang.

Arsenal dan Iran mengajarkan saya satu hal penting: tidak semua hal harus dimenangkan sekarang. Ada hal-hal yang memang butuh waktu. Butuh kegagalan berulang. Butuh kesabaran yang sering kali terasa melelahkan.
Dan mungkin, justru di situlah letak nilainya.

Dalam dua dekade terakhir Arsenal sejak ditinggal pelatih legendaris Arsene Wenger tim London Utara ini mengalami fase jatuh bangun. Mulai dari proyek jangka Panjang hingga bongkar pasang pemain dan pelatih sudah diikhtiarkan. Harapan itu kembali muncul ketika Arteta ditunjuk menjadi arsitek tim. Tim ini tampak memiliki gairah kembali dalam beberapa tahun terkahir untuk menyandang gelar premier league. Namun gap tipis antara harapan dan “hampir” juara terus membayangi dalam tiga musim ini. Bak sebuah ujian kesabaran, fase ini justru benar-benar menguji arti loyalitas, pemahaman arti sejarah besar, serta penderitaan kolektif untuk tetap setia membersamai Arsenal. Bagi saya tetap menjadi bagian dari gooners adalah salah satu tirakat jalan sunyi yang harus dijalani. Tim ini telah memberikan makna akan kehidupan yang utuh. Tim ini telah memberikan pelajaran apa itu kebahagiaan, kekecewaan, mempertahankan harga diri, serta tak gampang putus asa. Ini adalah siklus kehidupan yang nyata.

Baca juga  Mengapa 1 Ramadhan 1447 H Berbeda, Padahal Data Hisab Seluruh Indonesia Menunjukkan Hilal Berada di Bawah Ufuk?

Begitu juga dengan Iran. Bangsa besar yang meyakini bahwa mereka adalah pewaris peradaban besar. Sebagai konsekuensi dari Great Empire, mereka tak mudah untuk ditundukkan, semakin dikuyo-kuyo semakin tangguh. Semakin ada bangsa luar yang ingin menaklukan, maka perjuangan kolektif rakyat Iran semakin solid. 40 tahun lebih rakyat Iran di embargo, diasingkan dari komunitas global tak membuat mereka menjadi bangsa yang lemah dan gentar untuk tunduk pada dominasi super power. Terbunuhnya Sang Ayatulloh Ali Khemenei atas serangan Israel-US justru menjadikan semua kompenen bangsa Iran menyatu. Baik dari kelompok kiri hingga faksi kelompok moderat. Ali Khemenei bukan hanya sekedar tokoh politik, ia adakah simbol perlawanan terhadap keangkuhan super power. Simbol keteguhan membela yang tertindas, dan simbol perjuangan membendung kerakusan para monster ekonomi dunia.

Dalam banyak narasi resmi maupun kultural, penderitaan bukan sekadar konsekuensi, tetapi justru legitimasi perjuangan. Ia menjadi energi moral. Bahkan dalam dinamika kontemporer, rasa “keadilan yang dirampas” terus menjadi pemicu mobilisasi sosial dan politik di Iran.
Pada akhirnya, baik Arsenal maupun Iran mengajarkan satu hal: bahwa perjuangan bukan hanya tentang tujuan akhir, tetapi tentang bagaimana penderitaan yang menyertainya justru menjadi sumber identitas, daya tahan, filsafat kehidupan untuk terus memupuk harapan. Meskipun kadang paradoks, adanya harapan itulah yang membuat kita tetap bertahan hidup, namun karena harapan itu pula kadang kita kecewa.

Dukungan Anda Sangat Berarti 😊

Yuk bantu perjuangan LTN NU Kota Depok menyebarkan informasi kegiatan NU dengan melakukan pembayaran melalui QRIS berikut:

QRIS Pembayaran

Terima kasih atas kontribusi Anda 🙏