[OPINI] NU di Abad Ke-2: Masih Berkhidmah atau Terjebak dalam Romantisme Sejarah?

whatsapp image 2026 07 21 at 09.08.38

Penulis : Aldi irawan, Aktivis muda NU

Lahir pada 31 Januari 1926, Nahdlatul Ulama (NU) telah memasuki abad kedua perjalanan pengabdiannya. Lebih dari satu abad, NU tumbuh menjadi organisasi Islam terbesar di Indonesia yang bukan hanya menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), tetapi juga memainkan peran strategis dalam menjaga persatuan bangsa, mengembangkan pendidikan, memperkuat kehidupan sosial-keagamaan, serta menjadi mitra penting negara dalam merawat harmoni kebangsaan.

Warisan sejarah tersebut merupakan kebanggaan yang tidak terbantahkan. Namun, memasuki abad kedua, kebesaran sejarah tidak boleh berubah menjadi romantisme yang membuat organisasi terlambat membaca perubahan zaman. Sebab, organisasi yang besar bukanlah organisasi yang hanya dikenang karena sejarahnya, melainkan organisasi yang terus menghadirkan manfaat bagi masyarakat sesuai dengan tantangan setiap zaman. Gagasan inilah yang semestinya menjadi titik tolak refleksi NU hari ini.

Perubahan dunia berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan satu dekade yang lalu. Revolusi digital, perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), transformasi ekonomi, hingga perubahan pola komunikasi telah melahirkan masyarakat yang semakin kritis dan rasional. Otoritas keagamaan tidak lagi diterima semata-mata karena faktor historis ataupun ketokohan, tetapi juga karena kapasitas intelektual, integritas moral, dan kemampuan memberikan solusi terhadap persoalan masyarakat.

Di sinilah NU menghadapi tantangan besar. Organisasi ini dituntut untuk tetap menjaga nilai-nilai Aswaja sekaligus mampu menjawab berbagai persoalan kontemporer. Pembaruan organisasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan agar NU tetap menjadi rujukan umat di tengah perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat.

BERBENAH TANPA KEHILANGAN JATI DIRI

Pembenahan internal menjadi langkah yang tidak dapat ditunda. Penguatan sistem kaderisasi, peningkatan kualitas pelayanan organisasi, tata kelola yang lebih profesional, serta pemanfaatan teknologi digital harus menjadi agenda utama NU memasuki abad kedua. Namun, pembaruan tersebut tidak boleh dimaknai sebagai upaya meninggalkan tradisi. Justru sebaliknya, transformasi harus berangkat dari cita-cita para muassis yang menjadikan NU sebagai organisasi pengabdian bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Baca juga  Kedudukan Debitor dalam Jaminan Fidusia: Antara Perlindungan dan Keterdesakan

Dalam konteks inilah kaidah yang selama ini menjadi ruh Nahdlatul Ulama menemukan relevansinya,

المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح

“Memelihara tradisi lama yang baik serta mengambil hal-hal baru yang lebih baik.”

Kaidah tersebut mengajarkan bahwa menjaga tradisi tidak berarti menolak perubahan. Tradisi dan inovasi justru harus berjalan beriringan agar NU tetap mampu menjadi organisasi yang hidup dan relevan.

Bagi kalangan remaja Nahdliyin, berbagai dinamika internal NU tidak dipandang sebagai alasan untuk menjauh dari organisasi. Sebaliknya, kondisi tersebut menjadi panggilan untuk ikut memperbaiki dan memperkuat NU dari dalam. Generasi muda berharap NU semakin terbuka terhadap kritik, lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi, memberi ruang bagi kader yang kompeten, serta membangun kepemimpinan yang meritokratis, visioner, dan berintegritas.

Harapan tersebut bukanlah bentuk ketidakpuasan terhadap NU, melainkan bukti bahwa generasi muda masih menaruh kepercayaan besar kepada organisasi ini. Mereka menginginkan NU tidak hanya menjadi organisasi yang besar secara historis, tetapi juga menjadi organisasi yang besar karena kualitas gagasan, pelayanan, dan kepemimpinannya.

ORIENTASI NAHDLATUL ULAMA

Pada hakikatnya, orientasi NU tidak pernah berubah sejak didirikan oleh para ulama. NU hadir sebagai organisasi pengabdian yang bertujuan menghadirkan kemaslahatan bagi umat melalui dakwah yang moderat, toleran, dan berorientasi pada kemanusiaan. Oleh karena itu, memasuki abad kedua, orientasi tersebut perlu diperkuat melalui penguatan kelembagaan, kaderisasi berbasis kompetensi, pelayanan publik yang profesional, dan kepemimpinan yang berintegritas.

Di sisi lain, NU juga perlu memperkuat pendekatan kultural yang selama ini menjadi kekuatan utamanya. Pesantren, majelis taklim, para kiai, dan badan otonom NU merupakan ruang strategis dalam mentransmisikan nilai-nilai Aswaja kepada masyarakat. Akan tetapi, pendekatan tersebut perlu dipadukan dengan literasi digital, inovasi komunikasi, dan penguasaan teknologi agar dakwah NU tetap efektif menjangkau generasi masa kini.

Baca juga  [OPINI] Ketika Negara Terlalu Mengatur: Mengapa Gen Z Memilih Melawan atau Diam

Pada akhirnya, pertanyaan mengenai relevansi NU pada abad kedua tidak dapat dijawab hanya dengan menunjuk usia organisasi ataupun besarnya jumlah warga Nahdliyin. Relevansi NU akan selalu diukur dari kemampuannya menghadirkan manfaat yang nyata, menjaga marwah keilmuan Islam, memperkuat persatuan bangsa, serta memberikan solusi atas berbagai persoalan keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan yang terus berkembang.

Abad kedua bukanlah masa untuk berpuas diri dengan romantisme sejarah. Ia adalah fase untuk mempertegas kembali orientasi pengabdian. Sejarah memang telah mengantarkan NU menjadi organisasi Islam terbesar di Indonesia, tetapi masa depan NU akan ditentukan oleh keberaniannya melakukan transformasi tanpa kehilangan jati diri Aswaja. Selama nilai-nilai keikhlasan, khidmah, musyawarah, dan kemaslahatan tetap menjadi fondasi perjuangan, NU akan terus menjadi rumah besar umat Islam sekaligus penjaga moderasi Islam di Indonesia.

 

Dukungan Anda Sangat Berarti 😊

Yuk bantu perjuangan LTN NU Kota Depok menyebarkan informasi kegiatan NU dengan melakukan pembayaran melalui QRIS berikut:

QRIS Pembayaran

Terima kasih atas kontribusi Anda 🙏