Oleh: Nur Arif Makful, Ph.D. Dosen, pegiat dan peneliti kognitif neurosains dan fenomena sosial
Bayangkan seorang remaja di Hong Kong yang harus berpikir dua kali sebelum mengirim pesan di grup chat, karena tidak yakin apakah kata-katanya bisa berujung masalah dengan aparat. Atau seorang mahasiswa di kampus yang tiba-tiba merasa setiap gerak-geriknya terekam kamera pengawas. Ini bukan lagi adegan film distopia—ini keseharian jutaan anak muda Generasi Z di berbagai belahan dunia, termasuk yang tumbuh di bawah bayang-bayang kebijakan negara yang serba mengontrol.
Pertanyaannya sederhana namun penting: apa yang terjadi pada jiwa generasi muda ketika mereka tumbuh di tengah negara yang gemar mengawasi, membatasi, dan menuntut kepatuhan? Jawabannya, menurut sejumlah kajian ilmiah terbaru, ternyata jauh lebih rumit—dan lebih personal—dari sekadar isu politik.
Generasi yang Tumbuh di Dua Dunia
Generasi Z, yang lahir kira-kira antara 1997 hingga 2012, adalah generasi pertama yang benar-benar besar bersama internet. Mereka bisa melihat apa yang terjadi di negara lain hanya lewat genggaman tangan. Namun di saat yang sama, banyak negara—baik yang memang otoriter maupun negara demokratis yang mulai condong ke arah itu—justru semakin memperketat cengkeramannya: pengawasan digital yang meluas, ruang bicara yang menyempit, kurikulum pendidikan yang disentralisasi, hingga campur tangan negara yang mendalam ke urusan pribadi warganya.
Kombinasi ini menciptakan semacam benturan generasi: anak muda yang haus kebebasan dan akses informasi tanpa batas, berhadapan dengan negara yang justru ingin mengendalikan lebih ketat. Lalu, bagaimana tubuh dan pikiran mereka merespons benturan ini?
Tubuh yang Diam-Diam Menyimpan Tekanan
Ilmu biopsikologi punya jawaban yang mengejutkan: tekanan dari negara yang otoriter ternyata bisa meninggalkan jejak biologis, bukan cuma jejak emosional. Di dalam tubuh kita ada sistem yang disebut poros HPA (hipotalamus-pituitari-adrenal), semacam “pusat kendali stres” yang mengatur pelepasan hormon kortisol setiap kali kita merasa terancam.
Riset menunjukkan bahwa tekanan yang berbau ancaman—seperti diawasi terus-menerus, hidup dalam ketidakpastian sanksi, atau harus patuh tanpa bisa membantah—cenderung memicu lonjakan kortisol. Ini berbeda dengan tekanan akibat kekurangan atau ketiadaan (deprivasi), yang justru menekan kadar kortisol. Artinya, jenis tekanan yang dialami menentukan bagaimana tubuh “meresponsnya” secara kimiawi.
Yang lebih menarik, pola ini biasanya diteliti dalam konteks keluarga: anak yang tumbuh dengan figur otoritas yang kaku dan minim ruang dialog cenderung punya pola kortisol yang tidak stabil. Nah, para peneliti kini melihat kemiripan pola ini pada skala yang lebih besar—hubungan antara warga negara dan negaranya sendiri. Ibarat pola asuh otoriter dalam keluarga (menuntut kepatuhan tinggi, minim kehangatan), negara pun bisa “mengasuh” warganya dengan cara serupa, dan efeknya pada generasi muda diduga tak jauh berbeda: kecemasan yang menumpuk diam-diam, bahkan berisiko memicu gangguan suasana hati di kemudian hari.
Dua Jalan yang Ditempuh Anak Muda
Ketika ruang kebebasan dipersempit, psikologi manusia punya mekanisme bernama reaktansi psikologis—dorongan alami untuk merebut kembali kebebasan yang dirasa direnggut. Di sinilah muncul dua pola perilaku yang tampak berlawanan, namun sebenarnya berasal dari akar yang sama.
Pola pertama: melawan. Di Hong Kong, Myanmar, hingga Thailand, anak-anak muda memilih jalan resistensi aktif. Mereka turun ke jalan, membangun gerakan sosial, atau bermigrasi ke ruang digital alternatif. Menariknya, mereka kerap menggunakan meme, tagar, dan simbol budaya populer sebagai “bahasa rahasia” yang sulit dijangkau sensor negara—sekaligus cara membangun solidaritas lintas negara tanpa harus berhadapan langsung dengan aparat.
Pola kedua: patuh, tapi diam-diam menderita. Di sisi lain, ada anak muda yang memilih tunduk di permukaan—terlihat patuh, tidak melawan secara terbuka—namun sesungguhnya menyimpan kecemasan kronis, rasa tidak percaya pada orang lain, dan menarik diri secara emosional maupun politik. Pola ini bisa jadi lebih berbahaya justru karena tidak terlihat: seolah semua baik-baik saja, padahal beban psikologis terus menumpuk di dalam.
Erik Erikson, psikolog yang terkenal dengan teori tahapan perkembangan manusia, pernah menegaskan bahwa masa remaja adalah fase krusial pembentukan identitas—fase saat seseorang butuh ruang untuk mencoba berbagai peran dan nilai secara relatif bebas dari tekanan otoritas berlebih. Ketika negara mempersempit ruang ini lewat sensor, pembatasan kurikulum, atau pengawasan digital, banyak anak muda akhirnya “pindah rumah” secara psikologis—mencari ruang eksplorasi identitas di komunitas daring lintas negara yang terasa lebih aman.
Belajar dari Sejarah Indonesia
Indonesia sendiri punya pengalaman berharga soal ini. Runtuhnya rezim Orde Baru pada 1998 tidak lepas dari peran gerakan mahasiswa dan anak muda kala itu—sebuah momen yang oleh para peneliti sering disandingkan dengan gerakan “people power” di Filipina. Menariknya, Generasi Z hari ini yang tidak mengalami langsung represi Orde Baru tetap mewarisi narasi kolektif tentang bahaya kekuasaan yang terlalu terpusat. Ini menunjukkan bahwa trauma dan pelajaran politik sebuah bangsa bisa “menurun” ke generasi berikutnya, bahkan tanpa pengalaman langsung—semacam bayangan sejarah yang terus membentuk sikap terhadap otoritas.
Bukan Cuma Soal Rezim Otoriter
Menariknya, fenomena ini tidak hanya berlaku di negara-negara yang jelas-jelas otoriter. Bahkan di negara demokratis, ketika iklim politik dipenuhi retorika yang menuntut perubahan total dan drastis secara terus-menerus, anak muda tetap bisa mengalami tekanan psikologis serupa—bukan karena represi terbuka, tapi karena rasa ketidakpastian struktural yang berkepanjangan tanpa jeda untuk “bernapas” secara psikologis.
Ini artinya, yang benar-benar berdampak pada kesehatan mental Generasi Z bukan cuma soal negara otoriter atau demokratis semata, melainkan seberapa besar ketidakpastian dan tekanan yang mereka rasakan datang dari mereka yang berkuasa—siapa pun itu.
Mengapa Ini Penting bagi Kita Semua
Riset-riset ini mengingatkan bahwa kebijakan negara bukan sekadar urusan hukum atau politik di atas kertas. Ia punya efek nyata sampai ke level hormon dan jiwa generasi muda. Masa remaja dan dewasa muda adalah periode kritis pembentukan identitas sekaligus “pengaturan ulang” sistem regulasi stres yang akan terus terbawa hingga dewasa.
Karena itu, baik pemerintah, institusi pendidikan, maupun keluarga perlu lebih peka: memberi ruang dialog, bukan sekadar instruksi; memberi kepercayaan, bukan hanya pengawasan. Sebab bagaimana pun bentuknya—rezim otoriter yang kaku atau sekadar gaya kepemimpinan yang terlalu menuntut kepatuhan—generasi muda akan selalu mencari jalan untuk bernapas: entah dengan melawan, atau diam-diam menanggung bebannya sendiri.
Dukungan Anda Sangat Berarti 😊
Yuk bantu perjuangan LTN NU Kota Depok menyebarkan informasi kegiatan NU dengan melakukan pembayaran melalui QRIS berikut:
Terima kasih atas kontribusi Anda 🙏

![[OPINI] Ketika Negara Terlalu Mengatur: Mengapa Gen Z Memilih Melawan atau Diam whatsapp image 2026 07 08 at 16.58.01 (1)](https://i0.wp.com/pcnudepok.com/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-08-at-16.58.01-1.jpeg?fit=1024%2C582&ssl=1)


