Memotong kuku termasuk bagian dari sunnah fitrah yang dianjurkan dalam Islam. Selain bernilai kebersihan, para ulama juga menjelaskan hikmah waktu dan adabnya, sebagaimana tertuang dalam kitab-kitab mu‘tabarah karya ulama Ahlussunnah wal Jama‘ah.
Waktu Memotong Kuku Menurut Kitab Hasyiyah al-Bajuri
Dalam Hasyiyah al-Bajuri juz 1 halaman 424 disebutkan keterangan sebagai berikut:
قَصُّ الْأَظَافِرِ يَوْمَ السَّبْتِ آكِلَةٌ تَبْدُوْ، وَفِيْمَا يَلِيْهِ يُذْهِبُ الْبَرَكَةَ
وَعَالِمٌ فَاضِلٌ يَبْدُوْ بِتِلْكَهُمَا، وَإِنْ يَكُنْ فِي الثُّلَاثَاءِ فَاحْذَرِ الْهَلَكَةَ
وَيُوْرِثُ السُّوْءَ فِي الْأَخْلَاقِ رَابِعُهَا، وَفِي الْخَمِيْسِ الْغِنَى يَأْتِي لِمَنْ سَلَكَهُ
وَالْعِلْمُ وَالْحِلْمُ زِيدَا فِي عُرُوبَتِهَا، عَنِ النَّبِيِّ رُوِّينَا فَاقْتَفُوا نُسُكَهُ
Dari keterangan tersebut, para ulama merinci pengaruh hari-hari memotong kuku sebagai berikut:
Hari Sabtu: Menimbulkan penyakit yang menggerogoti tubuh.
Hari Ahad (Minggu): Menghilangkan keberkahan.
Hari Senin: Menjadi sebab seseorang alim dan fadhil.
Hari Selasa: Menyebabkan kebinasaan.
Hari Rabu: Menyebabkan buruknya akhlak.
Hari Kamis: Mendatangkan kekayaan dan kelapangan rezeki.
Hari Jumat: Menambah ilmu dan sifat santun (hilm).
Keterangan ini menunjukkan bahwa para ulama sangat memperhatikan adab waktu, bahkan dalam perkara kecil, karena diyakini mengandung hikmah dan pengaruh spiritual.
Anjuran Memotong Kuku Hari Kamis Setelah Ashar
Dalam Kitab I‘anah ath-Thalibin juz 2 halaman 98 disebutkan:
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَأْمَنَ الْفَقْرَ، وَشِكَايَةَ الْعَمَى، وَالْبَرَصَ، وَالْجُنُونَ، فَلْيُقَلِّمْ أَظْفَارَهُ يَوْمَ الْخَمِيْسِ بَعْدَ الْعَصْرِ
Artinya:
“Barang siapa yang ingin selamat dari kefakiran, penyakit buta, kusta, dan gangguan jiwa, maka hendaklah ia memotong kukunya pada hari Kamis setelah Ashar.”
Ini semakin menguatkan keutamaan hari Kamis sebagai waktu yang dianjurkan.
Tata Cara Memotong Kuku Menurut Ihya’ Ulumuddin
Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin juz 1 halaman 143–145 menjelaskan adab memotong kuku sebagai berikut:
فَيَنْبَغِي أَنْ يَبْدَأَ بِمُسَبِّحَةِ الْيَدِ الْيُمْنَى إِلَى الْخِنْصِرِ، ثُمَّ يَعُودُ إِلَى الْإِبْهَامِ، ثُمَّ يَنْتَقِلُ إِلَى خِنْصِرِ الْيَسْرَى وَيَخْتِمُ بِإِبْهَامِهَا
Artinya:
“Seyogianya memulai dari jari telunjuk tangan kanan hingga jari kelingking, kemudian kembali ke ibu jari tangan kanan. Lalu berpindah ke jari kelingking tangan kiri dan diakhiri dengan ibu jari tangan kiri.”
Penutup
Dari penjelasan para ulama di atas, jelas bahwa memotong kuku bukan sekadar kebiasaan, tetapi bagian dari adab Islam yang sarat nilai sunnah dan keberkahan. Dengan memperhatikan waktu yang dianjurkan dan tata cara yang benar, diharapkan amalan sederhana ini bernilai ibadah dan membawa kebaikan lahir maupun batin.
Semoga kita dimudahkan untuk menghidupkan sunnah Nabi ﷺ dalam seluruh aspek kehidupan.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.
Penulis: Anwarudin
Dukungan Anda Sangat Berarti 😊
Yuk bantu perjuangan LTN NU Kota Depok menyebarkan informasi kegiatan NU dengan melakukan pembayaran melalui QRIS berikut:
Terima kasih atas kontribusi Anda 🙏




