[Opini] Tantangan Terbesar Pada Nahkoda Baru di Tubuh NU

whatsapp image 2026 09 18 at 07.00.56

Penulis           : Aldi Irawan
Lembaga        : Aktivis Muda NU dan Praktisi Pendidikan di Az-Zainiyah Depok

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang diselenggarakan di Jombang menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan organisasi Islam terbesar di Indonesia. Forum tertinggi dalam struktur organisasi Nahdlatul Ulama tersebut tidak hanya menjadi arena pergantian kepemimpinan, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi seluruh warga Nahdliyin tentang arah masa depan NU.

Melalui proses Muktamar ke-35, KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin resmi terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk masa khidmat 2026-2031. Terpilihnya kepemimpinan baru tentu membawa harapan besar. Namun, di balik harapan tersebut, terdapat sejumlah tantangan yang tidak ringan dan harus segera dijawab oleh kepemimpinan baru.

NU hari ini bukan sekadar organisasi keagamaan dengan struktur besar. NU merupakan kekuatan sosial, keagamaan, pendidikan, budaya, bahkan kebangsaan yang memiliki jaringan yang dimulai dari gerakan elite hingga ke tingkat akar rumput (grassroot). Besarnya organisasi tentu menghadirkan potensi yang luar biasa, tetapi sekaligus melahirkan persoalan yang semakin kompleks.

Prioritas Persatuan Dan Tantangan NU

Salah satu tantangan yang terlihat dalam proses Muktamar ke-35 adalah dinamika internal organisasi. Proses pelaksanaan Muktamar diwarnai berbagai ketegangan dan perbedaan pandangan, terutama dalam pembahasan mengenai mekanisme dan persyaratan pemilihan calon Ketua Umum. Pada momentum sidang pleno Ke-IV, dinamika tersebut bahkan menjadi perhatian publik karena munculnya intervensi dan kericuhan yang cukup masif dari sejumlah pihak.

Fenomena tersebut seharusnya tidak hanya dipandang sebagai persoalan teknis penyelenggaraan Muktamar. Lebih jauh, kondisi itu menjadi gambaran bahwa NU sedang menghadapi tantangan besar dalam menjaga kedewasaan berdemokrasi di tengah besarnya kepentingan dan beragamnya kelompok yang berada di dalam tubuh organisasi.

Perbedaan pandangan dalam organisasi sebesar NU sebenarnya merupakan sesuatu yang wajar. Bahkan, perbedaan adalah bagian dari tradisi intelektual NU. Sejak awal berdirinya, NU dikenal sebagai organisasi yang memiliki tradisi musyawarah dan menghargai keragaman pemikiran. Namun, perbedaan tersebut akan menjadi persoalan apabila tidak lagi dikelola melalui mekanisme organisasi yang sehat.

Baca juga  Waspadalah, Lomba 'Qiroatul Kutub' Dapat Melemahkan NU dari Dalam

Di sinilah tantangan pertama pemimpin baru NU yaitu mengembalikan semangat persatuan dan memperkuat konsolidasi internal organisasi, karna kepemimpinan baru harus mampu merangkul berbagai kelompok dan kekuatan yang ada di lingkungan NU. Muktamar seharusnya tidak meninggalkan sekat antara pihak yang merasa menang dan pihak yang merasa kalah. Setelah proses demokrasi organisasi selesai, seluruh elemen harus kembali kepada satu tujuan besar, yaitu menjaga dan membesarkan marwah organisasi Nahdlatul Ulama untuk menuju NU di masa depan.

Tantangan berikutnya adalah persoalan penataan organisasi dan validitas struktur kepengurusan. Tercatat ada lebih dari 2.246 Surat Keputusan (SK) aktif yang mencakup total 43.530 pengurus terdata di berbagai tingkatan struktur kepengurusan. Jumlah tesebut bukanlah jumlah yang sedikit bagi organisasi islam.

Besarnya jaringan struktural tersebut menunjukkan betapa luasnya jangkauan NU. Namun, pada saat yang sama, kondisi tersebut menuntut sistem administrasi dan tata kelola organisasi yang semakin modern, transparan, serta akuntabel.

Pemutakhiran data organisasi tidak boleh hanya menjadi kebutuhan menjelang Muktamar. Ke depan, PBNU perlu membangun sistem organisasi yang mampu memastikan seluruh struktur berjalan aktif, memiliki administrasi yang tertib, dan benar-benar menjalankan fungsi kaderisasi serta pelayanan kepada masyarakat.

NU membutuhkan tata kelola yang kuat tanpa kehilangan karakter tradisionalnya. Modernisasi organisasi bukan berarti meninggalkan tradisi, melainkan memperkuat tradisi dengan sistem yang sesuai dengan perkembangan zaman. Sesuai dengan prinsip al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah yaitu dengan berorientasi pada mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.

Tantangan yang tidak kalah besar adalah menjaga NU dari tarik-menarik kepentingan politik praktis. Sebagai organisasi besar dengan jumlah warga yang sangat besar, NU selalu memiliki posisi strategis dalam kehidupan bangsa. Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak kepentingan politik yang ingin mendekati, memanfaatkan, bahkan mengambil keuntungan dari besarnya pengaruh NU.

Baca juga  Di Persimpangan Transformasi: Menakar Masa Depan Pendidikan Indonesia di Era Disrupsi

Kedekatan dengan kekuasaan tidak boleh membuat NU kehilangan keberpihakannya kepada masyarakat. Sebaliknya, menjaga jarak dari politik praktis bukan berarti NU harus diam terhadap persoalan bangsa. NU harus tetap hadir sebagai pemberi arah, penjaga nilai kebangsaan, dan kekuatan moral dalam kehidupan bernegara.

Keterlibatan Generasi Muda

NU memiliki jumlah kader muda yang sangat besar. Mereka hadir di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, teknologi, ekonomi kreatif, kewirausahaan, hingga gerakan sosial. Namun, potensi besar tersebut harus diberikan ruang yang cukup dalam proses pembangunan organisasi.

Generasi muda NU tidak hanya membutuhkan tempat dalam struktur kepengurusan, tetapi juga kesempatan untuk melahirkan gagasan dan inovasi. Kepemimpinan baru perlu membuka ruang dialog antara generasi senior dan generasi muda agar terjadi kesinambungan perjuangan.

NU membutuhkan pengalaman para kiai dan sesepuh, tetapi NU juga membutuhkan energi, kreativitas, dan kemampuan adaptasi generasi muda.

Tantangan NU ke depan juga semakin kompleks dengan berkembangnya teknologi digital dan perubahan pola kehidupan masyarakat. Penyebaran informasi yang begitu cepat telah menciptakan ruang baru bagi munculnya hoaks, ujaran kebencian, intoleransi, serta berbagai narasi keagamaan yang bertentangan dengan nilai-nilai islam yang moderat.

Dalam situasi seperti ini, NU harus mampu memperkuat kehadirannya di ruang digital. Dakwah tidak lagi hanya berlangsung di pesantren, masjid, dan majelis taklim, tetapi juga berlangsung di media sosial dan berbagai platform digital, karna mengingat saat ini sudah berada pada era teknologi yang begitu sangat masif.

Pemimpin baru NU harus memahami bahwa perjuangan menjaga Islam rahmatan lil alamin hari ini juga merupakan perjuangan dalam memenangkan narasi di ruang digital. Karena itu, tantangan terbesar pemimpin baru NU sesungguhnya bukan hanya soal menjalankan roda organisasi. Tantangan yang jauh lebih besar adalah menyatukan kekuatan besar NU di tengah perbedaan kepentingan, perubahan zaman, dan dinamika sosial-politik yang terus berkembang.

Baca juga  Mengapa Dunia Butuh NU? Disertasi Achmad Solechan Tawarkan Model Diplomasi Baru MiND Model di Ujikan di SPPB-UI

Pekerjaan Sesungguhnya Justru Dimulai

KH Abdul Hakim Mahfudz sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026-2031 memiliki tugas besar untuk menjaga persatuan organisasi, memperkuat tata kelola, menjaga independensi NU, serta membuka ruang bagi generasi muda untuk mengambil bagian dalam masa depan organisasi.

NU membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya kuat secara struktural, tetapi juga mampu mendengar suara warga di tingkat akar rumput (grassroot). Kepemimpinan yang tidak hanya hadir dalam forum-forum elite, tetapi juga memahami persoalan masyarakat kecil, pesantren, pendidikan, ekonomi umat, dan masa depan generasi muda.

Pada akhirnya, kekuatan terbesar NU bukan terletak pada jabatan atau besarnya struktur organisasi. Kekuatan NU terletak pada kepercayaan masyarakat, tradisi keilmuan, jaringan pesantren, serta semangat pengabdian para warganya.

Pemimpin boleh berganti, periode kepengurusan boleh berubah, tetapi perjuangan NU untuk menjaga agama, bangsa, dan kemanusiaan harus tetap berjalan.

Tantangan terbesar pemimpin baru NU adalah memastikan bahwa perubahan kepemimpinan tidak hanya menjadi pergantian nama dalam struktur organisasi, tetapi benar-benar menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, memperbaiki tata kelola, dan membawa Nahdlatul Ulama tetap relevan dalam menjawab tantangan zaman.

Dukungan Anda Sangat Berarti 😊

Yuk bantu perjuangan LTN NU Kota Depok menyebarkan informasi kegiatan NU dengan melakukan pembayaran melalui QRIS berikut:

QRIS Pembayaran

Terima kasih atas kontribusi Anda 🙏