DEPOK — Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Tapos menggelar peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 yang dirangkaikan dengan Haul Nyimas Utari Sandijayaningsih, Sabtu (24/10/2026). Bertempat di kompleks Makam Nyimas Utari Sandijayaningsih, kegiatan yang berlangsung pukul 06.00 hingga 12.00 WIB ini menjadi momentum mempererat silaturahmi, merawat tradisi, dan mengenang jasa para leluhur yang memiliki kaitan dengan sejarah perjuangan bangsa.
Mengusung tema “Dengan Semangat Santri Menjaga Tradisi, Menguatkan dan Mengenang Jasa Leluhur”, kegiatan tersebut melibatkan unsur pemerintah, ulama, tokoh sejarah dan budaya, pengurus NU, badan otonom, serta berbagai elemen masyarakat di Kecamatan Tapos.
Sejumlah tokoh hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Camat Tapos Drs. H. Jarkasih, perwakilan Kementerian Agama Kota Depok H. Hasan Basri, KHR Syarif Rahmat selaku pengasuh Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga, Ibrahim dari perwakilan Keluarga Besar Ki Ageng Mangir, serta KRT Faqih Wirahadiningrat dari perwakilan keluarga Keraton Yogyakarta.
Turut hadir KH Ahmad Buchori, pimpinan Pondok Pesantren Mahir Ar-Riyadh; Asep Nandang dari Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kota Depok; Prof. Didik Akhmadi selaku pemerhati sejarah dan budaya; pengurus NU; Ketua MUI Kecamatan Tapos; Ketua DMI Kecamatan Tapos; pengurus DKM Masjid At-Thohir; para lurah dan ketua LPM se-Kecamatan Tapos; serta jajaran badan otonom NU, meliputi Muslimat NU, Fatayat NU, Gerakan Pemuda Ansor, dan Banser.
Rawat Tradisi, Jangan Lupakan Sejarah
Ketua panitia, Ustaz Rudiyanto, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah bergotong royong mendukung penyelenggaraan kegiatan. Menurutnya, keterlibatan berbagai unsur masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi sekaligus memperkuat kebersamaan warga.
Camat Tapos, Drs. H. Jarkasih, mengajak masyarakat untuk terus merawat tradisi lokal dan mewariskan nilai-nilai sejarah kepada generasi muda.
“Mari kita ciptakan generasi penerus yang tidak melupakan sejarah perjuangan dan senantiasa menghargai jasa para pahlawannya,” ujar Jarkasih.
Sementara itu, H. Hasan Basri dari Kementerian Agama Kota Depok menekankan pentingnya pendidikan keagamaan dalam membentuk generasi yang beradab dan religius. Pendidikan agama dinilai memiliki peran penting dalam membekali generasi muda agar mampu menghadapi tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai moral dan keagamaan.
Pesan tersebut sejalan dengan semangat Hari Santri Nasional, yang tidak hanya mengingatkan masyarakat pada kontribusi santri dalam sejarah bangsa, tetapi juga menegaskan pentingnya pendidikan, akhlak, dan pengabdian dalam kehidupan masa kini.
Resolusi Jihad hingga Penelusuran Sejarah Nyimas Utari
Rangkaian kegiatan dipandu Ustaz Jaelani sebagai pembawa acara. Acara diawali dengan penampilan seni keagamaan dari majelis-majelis taklim kaum ibu dan kreasi para santri.
Suasana peringatan semakin bermakna ketika H. Uwoh Pramijaya membacakan Resolusi Jihad, dilanjutkan pembacaan Ikrar Santri oleh santri Pondok Pesantren. Kedua agenda tersebut mengingatkan kembali pada semangat perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Memasuki sesi sejarah, KRT Faqih Wirahadiningrat memaparkan rekam jejak perjuangan Nyimas Utari Sandijayaningsih. Ia juga mengajak masyarakat menelusuri sejarah para tokoh terdahulu sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan dan pengorbanan mereka.
Dalam kesempatan itu, KRT Faqih turut menyampaikan salam dan apresiasi dari Kepala Badan Intelijen dan Keamanan (Kabaintelkam) Polri, Komjen Pol. Dedy Kusuma Bhakti, kepada masyarakat Tapos atas kepedulian mereka dalam merawat dan menjaga jejak sejarah para pejuang bangsa.
Kegiatan ini memperlihatkan bahwa pelestarian sejarah bukan semata-mata upaya mengenang masa lalu, melainkan juga sarana menanamkan nilai perjuangan, tanggung jawab, dan kecintaan terhadap tanah air kepada generasi penerus.
Doa dan Tabur Bunga untuk Para Pendahulu
Sebagai penutup rangkaian tausiyah, KHR Syarif Rahmat menyampaikan mauidzah hasanah. Ia mengajak jamaah untuk senantiasa bertawakal kepada Allah SWT, meneladani perjuangan para wali dan pejuang bangsa, serta konsisten menjaga tradisi yang memiliki nilai luhur.
Acara kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin KH Ahmad Buchori. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan prosesi tabur bunga di makam Nyimas Utari Sandijayaningsih dan makam Syekh Maulana Alimuddin.
Melalui peringatan Hari Santri Nasional dan haul tersebut, MWCNU Tapos mengajak masyarakat untuk terus memperkuat hubungan antara tradisi keagamaan, pelestarian sejarah, dan semangat kebangsaan. Nilai-nilai perjuangan para ulama, santri, dan leluhur diharapkan tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi terus hidup dalam pendidikan, keteladanan, serta pengabdian kepada masyarakat dan bangsa.
Dukungan Anda Sangat Berarti 😊
Yuk bantu perjuangan LTN NU Kota Depok menyebarkan informasi kegiatan NU dengan melakukan pembayaran melalui QRIS berikut:
Terima kasih atas kontribusi Anda 🙏




