Depok — Pagi berkutat dengan perkuliahan dan praktikum di kampus, malam hingga Subuh mengaji kitab di pondok. Itulah gambaran perjuangan ‘santri amfibi’ di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Depok. Mengudara langsung dari serambi Masjid Al-Hikam Depok pada acara Wisuda dan Pengukuhan Santri Baru Pesantren Mahasiswa/i Al-Hikam Depok Tahun 2026. Tahun ini, pesantren mencetak sejarah baru dengan meluluskan 15 santri putra (Pesma) angkatan ke-9 dan 7 santri putri (Pesmi) angkatan ke-6 yang berasal dari berbagai daerah.
Ada sebuah istilah unik yang disematkan oleh perwakilan wisudawan, Muhammad Sidqon Siroj, S.Hum., untuk menggambarkan perjuangan mereka.
”Saya menolak untuk menggunakan diksi mahasantri, karena menurut saya kata yang mengikat makna ‘Maha’ ini jauh dari kata santri yang mengikat makna ketawadhu’an. Bila boleh menganalogikan, santri Pesantren Mahasiswa adalah santri yang amfibi,” ujar Sidqon.
Julukan ini bukan tanpa alasan. Para wisudawan ini adalah pemuda-pemudi luar biasa yang hidup di dua “alam” berbeda. Mereka memikul tanggung jawab ganda; berkomitmen mengikuti ketatnya kegiatan pesantren di satu sisi, dan berjibaku dengan segudang aktivitas akademik kampus di sisi lain.
Bisa dibayangkan betapa lelahnya mereka saat harus bergegas kembali ke pondok untuk mengaji setelah kelas kampus baru bubar pukul enam sore. Bahkan, tak jarang mereka harus mengikuti kajian pagi dengan mata menahan kantuk karena baru selesai menyalin laporan praktikum sesaat sebelum azan Subuh berkumandang. Namun, segala kelelahan itu terbayar lunas berkat lingkungan pesantren yang memanusiakan santrinya, di mana segala kebutuhan khas anak muda, bahkan hingga fasilitas bermain sepak bola dan tenis meja diakomodasi dengan baik selama tidak melanggar syariat.
Ilmu untuk Pengabdian

Kelulusan ini bukanlah titik akhir. Ketua Yayasan Al-Hikam Depok, Prof. Arif Zamhari, Ph.D, mengingatkan bahwa apa yang didapat di pesantren adalah modal awal menuju pengabdian yang sesungguhnya di masyarakat. Menurutnya, kehebatan seorang penuntut ilmu diukur dari seberapa besar pengabdiannya.
Beliau menekankan bahwa para alumni memiliki “senjata ganda” yang sangat ampuh. Dari pesantren mereka dibekali akhlak dan kedalaman spiritual, sementara dari kampus mereka mengantongi kekuatan teori keilmuan. Kolaborasi inilah yang sangat dibutuhkan untuk menghadapi era saat ini, di mana kebenaran sering kali dikaburkan oleh distraksi teknologi dan informasi.
Pesan mendalam juga disampaikan oleh Pengasuh Pesantren, KH. Muhammad Yusron Shidqi, Lc., M.Ag. Beliau menitipkan satu PR besar bagi para wisudawan: menjaga karakter self-educated atau mendidik diri sendiri. Gus Yusron, sapaan akrabnya, mewanti-wanti agar alumni tidak jauh-jauh dari majelis ilmu.
”Pertanyaannya: Bagaimana Anda memenuhi fardhunya tholabul ‘ilmi setelah lulus, saat Anda tidak lagi dipantau dan diawasi oleh Asatidz setiap hari?” tanya Gus Yusron.
Pasalnya, kewajiban mencari ilmu itu fardhu, derajatnya sejajar dengan ibadah wajib seperti sholat dan puasa.
Keistimewaan acara wisuda ini semakin lengkap dengan adanya Orasi Ilmiah dari Guru Besar FMIPA UI, Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys. Ia mengajak para santri meneladani ilmuwan muslim abad kejayaan seperti Ibnu Sina hingga Al-Biruni yang tidak hanya menguasai sains, tetapi juga merupakan para penghafal Al-Qur’an.
Bagi orang tua dan santri yang mungkin masih bertanya-tanya, “Setelah lulus mau jadi apa?”, Prof. Agustino memberikan perenungan tajam. Pertanyaan yang benar seharusnya adalah, “Mau jadi manusia seperti apa?”.
Ia membagikan resep jitu agar santri bisa menjadi pembawa solusi (problem solver) dan pembuat dampak nyata (impact maker).
”Saya membuat formulasi, bagaimana kita menjadi santri yang berdampak. Yaitu: Ilmu, Iman, Integritas, ikhtiar. Tidak boleh ada yang nol, karena ini perkalian bukan penjumlahan. Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, melainkan kekurangan insan-insan yang berintegritas,” katanya.
Sebagai bentuk kebanggaan, di penghujung acara pesantren memberikan apresiasi khusus. Penghargaan wisudawan terbaik bidang akademik diraih oleh Ns. Syadza Tazkia, S.Kep., sedangkan predikat wisudawan terbaik bidang kedisiplinan diberikan kepada Ahdi Nazzalul Ahsan, S.Mat..
Turut hadir merestui langkah para alumni, Pembina Yayasan Al-Hikam Ibu Nyai H. Mutammimah Hasyim, Ketua PCNU Kota Depok Bapak Dr. Achmad Solechan, serta jajaran tokoh agama dan wali santri yang memadati area acara. Selamat mengabdi, para santri amfibi!
Dukungan Anda Sangat Berarti 😊
Yuk bantu perjuangan LTN NU Kota Depok menyebarkan informasi kegiatan NU dengan melakukan pembayaran melalui QRIS berikut:
Terima kasih atas kontribusi Anda 🙏





