[OPINI] Muktamar NU dan Pelajaran dari Madinah

whatsapp image 2025 08 04 at 11.18.41 1024x683

Madinah, 10 Robiul Awal 1448 H

Oleh : Muhammad Kahfi, M. Pd (Ketua PC Ansor Kota Depok)

Muktamar NU bukan hanya tentang memilih siapa yang akan menjadi pemimpin. Lebih dari itu, Muktamar adalah momentum untuk melihat kembali ke mana NU akan berjalan dan untuk siapa perjuangan NU dilakukan.

Muktamar ke-35 NU akan dilaksanakan pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, dengan tema “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa.” Muktamar merupakan forum permusyawaratan tertinggi NU untuk membahas persoalan keagamaan, organisasi, program lima tahun ke depan, rekomendasi kebangsaan, serta kepemimpinan NU.

Namun, ada satu hal penting yang menurut saya perlu selalu kita ingat: jangan sampai Muktamar hanya sibuk membicarakan siapa yang memimpin, tetapi lupa membicarakan apa yang harus diperjuangkan.

Kalau kita melihat sejarah Madinah, kita menemukan pelajaran yang sangat besar.

Ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, yang dibangun bukan hanya sebuah tempat tinggal. Rasulullah membangun masyarakat. Beliau membangun persaudaraan antara Muhajirin dan Ansor, membangun masjid sebagai pusat kehidupan umat, membangun kepedulian sosial, dan menyatukan masyarakat yang sebelumnya memiliki banyak perbedaan.

Artinya, kepemimpinan bukan sekadar soal jabatan.

Kepemimpinan adalah kemampuan menyatukan, melayani, melindungi dan menghadirkan kemaslahatan.

Inilah yang semestinya menjadi ruh Muktamar NU.

NU memiliki sejarah panjang yang lahir dari pesantren dan perjuangan para ulama. NU didirikan pada 31 Januari 1926 di Surabaya dengan semangat menjaga tradisi keilmuan Islam Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus berkhidmah kepada umat dan bangsa.

Karena itu, Muktamar seharusnya menjadi tempat untuk kembali bertanya:

Apakah NU semakin dekat dengan umat?

Apakah masyarakat kecil merasa kehadiran NU?

Apakah pesantren semakin kuat?

Baca juga  [OPINI] Muktamar NU ke-35: Musyawarah atau Transaksi Politik?

Apakah kader-kader muda mendapatkan ruang untuk tumbuh?

Apakah ekonomi warga Nahdliyin semakin baik?

Apakah pendidikan semakin maju?

Apakah NU mampu menjaga persatuan bangsa?

Dan yang paling penting:

Apakah NU masih mampu menjaga marwah ulama dan tradisi pesantren sambil menjawab persoalan zaman yang terus berubah?

Madinah mengajarkan bahwa kekuatan umat bukan karena semua orang memiliki pemikiran yang sama. Kekuatan umat justru lahir ketika perbedaan mampu disatukan dalam persaudaraan dan tujuan yang lebih besar.

Maka jangan sampai perbedaan pilihan dalam Muktamar berubah menjadi permusuhan.

Jangan sampai perbedaan pandangan membuat kita saling menjatuhkan.

Jangan sampai kepentingan sesaat mengalahkan kepentingan NU yang jauh lebih panjang.

Hari ini mungkin kita berbeda pilihan. Tetapi setelah Muktamar selesai, kita tetap satu keluarga besar Nahdlatul Ulama.

Muktamar harus menjadi ruang musyawarah yang penuh adab.

Yang menang jangan merasa paling benar.

Yang belum mendapatkan amanah jangan merasa kalah.

Karena dalam organisasi sebesar NU, tidak ada kemenangan pribadi. Yang harus menang adalah khidmah NU kepada umat dan bangsa.

Mungkin inilah salah satu pelajaran terbesar dari Madinah:

Kita tidak akan menjadi besar karena berhasil mengalahkan saudara kita. Kita akan menjadi besar ketika mampu berjalan bersama meskipun berbeda.

Semoga Muktamar ke-35 NU bukan hanya menghasilkan kepengurusan baru, tetapi juga menghasilkan semangat baru.

Semangat untuk kembali kepada khidmah.

Semangat untuk memperkuat pesantren.

Semangat untuk membela masyarakat kecil.

Semangat untuk membangun generasi muda.

Semangat untuk menjaga persatuan.

Dan semangat untuk menjadikan NU semakin bermanfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Karena pada akhirnya, jabatan akan selesai.

Muktamar akan selesai.

Nama-nama akan berganti.

Tetapi amal dan manfaat yang kita tinggalkan akan terus dikenang.

Baca juga  Gelar Rakercab, Ansor Depok Kuatkan Barisan Tingkatkan Kemanfaatan

Semoga Allah menjaga para kiai, menjaga NU, menyatukan hati seluruh Nahdliyin, dan menjadikan Muktamar ke-35 sebagai jalan menuju NU yang semakin kuat, bermartabat, mandiri, dan penuh keberkahan.

NU bukan tentang siapa yang paling berkuasa. NU adalah tentang siapa yang paling banyak berkhidmah.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit tharieq
Waasalamu’alikum wr wb

Dukungan Anda Sangat Berarti 😊

Yuk bantu perjuangan LTN NU Kota Depok menyebarkan informasi kegiatan NU dengan melakukan pembayaran melalui QRIS berikut:

QRIS Pembayaran

Terima kasih atas kontribusi Anda 🙏