Muhasabah Kebangsaan di Al-Hikam Depok, Santri Diajak Merawat Kebinekaan dan Memperkuat Persatuan

whatsapp image 2026 08 19 at 07.51.41

DEPOK— Semangat memperkuat persatuan dan merawat kebinekaan menjadi perhatian dalam kegiatan Muhasabah Kebangsaan: Dari Santri Mahasiswa untuk Bangsa, Rekonsiliasi Kebangsaan dan Merawat Kebinekaan di Pondok Pesantren Al-Hikam Depok, Rabu (19/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00-15.00 WIB tersebut menghadirkan sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang. Forum ini menjadi ruang refleksi bagi kalangan santri mahasiswa untuk melihat kembali peran mereka dalam kehidupan kebangsaan.

Pengasuh PP Al-Hikam Depok, KH. M. Yusron Shidqi, Lc., M.A., hadir sebagai salah satu keynote speaker. Selain itu, hadir budayawan santri dan tokoh kebangsaan Dr. Ngatawie Al-Zastrouw, akademisi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Robi Sugara, M.Sc., serta Irjen Pol Langgeng Purnomo, S.I.K., M.H., perancang Peraturan Kepolisian Madya Tk. I Divkum Polri.

Kegiatan tersebut dipandu Zainal Abidin, M.Ag. sebagai host. Forum diselenggarakan dengan dukungan sejumlah lembaga dan komunitas yang tercantum dalam materi publikasi kegiatan.

Santri dan Tanggung Jawab Kebangsaan

Tema Muhasabah Kebangsaan menempatkan santri mahasiswa bukan hanya sebagai kelompok yang mendalami ilmu agama. Santri juga dipandang memiliki tanggung jawab untuk ikut menjawab persoalan bangsa.

Dalam konteks itu, rekonsiliasi kebangsaan menjadi penting. Perbedaan pandangan, latar belakang, pilihan politik, maupun identitas sosial tidak semestinya menjadi alasan untuk memperlebar jarak antarsesama anak bangsa.

Pesan tersebut sejalan dengan pandangan KH. M. Yusron Shidqi dalam berbagai forum sebelumnya. Ia menekankan pentingnya nilai-nilai kebangsaan tetap berpijak pada kemaslahatan bersama.

Dalam diskusi tentang Pancasila di Pesantren Al-Hikam Depok, Yusron pernah menegaskan, “Kita harus tetap menjadikan Pancasila sebagai dasar negara.”

Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa kecintaan terhadap agama dan kecintaan terhadap bangsa tidak harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan bersama dalam kerangka menjaga kemaslahatan masyarakat.

Baca juga  Roshdul Kiblat di Lazuardi Al Falah, Litbang Agama Pastikan Arah Kiblat Mushala Tetap Akurat

Merawat Kebinekaan

Muhasabah kebangsaan juga menjadi momentum untuk melihat kebinekaan sebagai kenyataan Indonesia yang harus dirawat.
Indonesia dibangun dari keberagaman suku, budaya, bahasa, tradisi, dan pemikiran. Karena itu, perbedaan membutuhkan kedewasaan dalam menyikapinya.

Pesantren memiliki posisi strategis dalam proses tersebut. Pendidikan pesantren tidak hanya membentuk kedalaman ilmu keagamaan. Pesantren juga membangun karakter, akhlak, tanggung jawab sosial, dan kecintaan kepada tanah air.

Dalam konteks Al-Hikam, gagasan kebangsaan bukan hal baru. Pesantren ini sebelumnya juga aktif mengangkat tema Pancasila, moderasi, dan persoalan kebangsaan dalam berbagai forum.

Karena itu, santri mahasiswa diharapkan mampu menjadi jembatan di tengah masyarakat. Mereka dapat mengambil peran dalam membangun dialog, mengurangi prasangka, serta menghadirkan cara pandang keislaman yang sejuk dan konstruktif.

(*)

Dukungan Anda Sangat Berarti 😊

Yuk bantu perjuangan LTN NU Kota Depok menyebarkan informasi kegiatan NU dengan melakukan pembayaran melalui QRIS berikut:

QRIS Pembayaran

Terima kasih atas kontribusi Anda 🙏